Refleksi Gerakan Buruh Melalui May Day 2018



Seperti biasanya, hari buruh internasional (May Day) yang jatuh pada tanggal 1 mei, diramaikan dengan aksi unjuk rasa dari para pekerja/buruh dan mahasiswa. Kompas memberitakan bahwa ada 35 serikat buruh yang turun ke jalan. Isu sentral dan tuntutan sebagian besar serikat buruh, masih sama dengan peringatan May Day ditahun-tahun sebelumnya, yaitu kesejahteraan buruh. Serikat buruh menuntut kenaikan upah dan pengurangan jam kerja, sedangkan  buruh yang tergabung dalam perkumpulan dosen/pengajar menuntut pengangkatan pengajar kontrak menjadi tetap/PNS, serta menuntut kenaikan standar upah bagi pengajar. Selebihnya, mendeklarasikan mengenai urgensi soal kendaraan politik bagi gerakan buruh.

Tuntutan sectarian gerakan buruh
Apa yang dipertontonkan sebagian besar organisasi buruh pada peringatan May Day tahun ini, menunjukkan seperti apa dinamika gerakan buruh itu sendiri. Dari tahun ke tahun, tidak banyak yang berubah di internal sebagian besar organisasi buruh . Buruh masih berkutat pada soal-soal kesejahteraan, yaitu upah dan jam kerja. Setiap tahunnya, saat may day, buruh turun ke jalan dan menuntut kesejahteraan.

Hal tersebut mengasumsikan posisi perjuangan buruh, yaitu tetap menjadi buruh dan menjadi ujung tombak dari produksi kapitalis. Dalam hal ini, buruh tidak mempersoalkan posisinya dalam sirkulasi produksi kapital. Asalkan upah  layak, cukup untuk kebutuhan makan, membeli rumah, motor, mobil, tak apalah tetap menjadi buruh. Asalkan punya banyak waktu luang, liburan bersama keluarga, bermain bersama anak, tak apalah kapitalisme tetap tumbuh subur.

Singkatnya ada semacam upaya untuk ber-simbiosis-mutualisme. Bahwa relasi internal antara buruh/proletar dan borjuis adalah saling menopang satu sama lain. Jika borjuis ingin tetap eksis, maka sejahterakanlah para buruh/proletar. Borjuis tetap tenang, dan proletar juga ikut tenang.

Beberapa pemimpin serikat buruh, coba menutupi dis-orientasi itu dengan dalih : buruh butuh sejahterah terlebih dahulu agar bisa berpolitik. Mengutip argument Marx tersebut, seakan gerakan buruh masih tetap berjalan pada koridornya. Tetapi mereka lupa, bahwa kebangkitan gerakan buruh mesti bermula dari kontradiksi internal dari buruh itu sendiri. Bahwa derita kemiskinan yang mesti ditanggung oleh buruh atas semakin menguatnya kekuatan kapitalisme, merupakan momentum kebangkitan para buruh untuk bersatu, mengorganisir diri dan organisasi, meretas sektarianisme antar serikat, memperkuat pendidikan politik, bersama-sama memimpin negeri ini dan sama-sama memikirkan system yang melampaui kapitalisme.  Bukannya mengorganisir buruh lalu melakukan aksi-aksi sectarian dan mengadvokasi hal-hal yang sifatnya normative. Tidak akan ada sebuah gerak baru, tanpa kontradiksi.

Urgensi kendaraan politik

Kesadaran akan pentingnya kendaraan politik (partai) yang menjadi basis gerakan buruh, merupakan sebuah langkah lebih maju. Meskipun saya sendiri belum tahu apakah gagasan tersebut benar-benar lahir dari refleksi para buruh, atau merupakan gagasan elite organisasi yang ujung-ujungnya menjadikan buruh sebagai tunggangan.

Terlepas dari itu, setidaknya, gagasan ini-sadar tidak sadar-mengasumsikan beberapa arah gerakan buruh : 1. Meretas sektarianisme organisasi buruh, melalui payung partai buruh. 2. Menjadi medium bagi buruh untuk memperkuat ideologisasi, pendidikan politik, dan berlatih mengorganisir kerja-kerja politik. 3. Menjadi medium bagi buruh untuk bertukar pengetahuan, keterampilan antar sektor produksi/pabrik. 4. Menjadi medium bagi buruh untuk mengorganisir kegiatan ekonomi alternative.

Mengapa dalam sosialisme ilmiah, kekuasaan mesti diambil alih oleh kelas buruh? Karena buruh adalah kelas yang paling memungkinkan untuk memutar balik keadaan. Mereka adalah kelompok yang terlibat langsung dalam sirkulasi produksi kapital, mereka yang sangat paham seperti apa kapital bekerja. Karena terlibat langsung, maka mereka juga yang paling memungkinkan untuk menemukan anti-tesa dari mekanisme kerja dalam sirkulasi produksi kapital. Singkatnya seperti itu.

Akan tetapi, hal itu tidak akan pernah terwujud apabila buruh tidak mempersiapkan diri dengan cara terus belajar, diantaranya berlatih mengorganisir kerja politik, belajar mengorganisir ekonomi mandiri, melalui koperasi partai misalnya, dan meretas sektarianisme. Sektarianisme dalam hal ini tidak bisa dipahami sebagai sektarianisme antar organisasi buruh. Tapi mesti melampaui itu. Gerakan buruh mesti mampu berkonsolidasi dengan sektor gerakan lain, gerakan petani misalnya. Apalagi kondisi Indonesia, jumlah petani masih lebih banyak dibandingkan buruh.

Selama kesadaran urgensi kendaraan politik masih dalam koridor visi gerakan buruh, maka hal itu mesti didukung. Tetapi apabila urgensi kendaraan politik masih dalam bingkai isu sectarian buruh, membuat partai agar buruh punya perwakilan sendiri lalu mampu membawa ‘kesejahteraan’ bagi buruh, maka hal itu mesti ditolak.

Perjalanan yang masih Panjang

Apa yang dihadapi gerakan buruh hari ini, tidak jauh berbeda dengan kondisi saat Internationale I didirikan. Sektarianisme buruh, saling sikut, kerja panjang meyakinkan para buruh, serta debat teoritis antar pemimpin organisasi buruh, adalah dinamika yang tak terelakkan. Bahkan Marx sendiri pernah berkata “kita mesti santun dalam bertindak, tapi tegas dalam isi” untuk meyakinkan buruh mengenai arah gerakan dalam menumbangkan kapitalisme.

Kondisi di Indonesia sendiri, jangankan debat ilmiah terkait visi perjuangan buruh, para buruh malah masih disibukkan menolak dan melawan pekerja kasar dari luar negeri. Asumsinya, ekspor pekerja hanya akan semakin memperparah kondisi pengangguran di Indonesia.  Padahal, pekerja kasar yang diekspor, bukanlah musuh organisasi buruh di Indonesia. Mereka bisa dilihat sebagai potensi untuk menghubungkan organisasi buruh di Indonesia, dengan organisasi buruh dari negara asal tenaga-kerja asing. Bukankah Marx pernah mengatakan bahwa “buruh tidak memiliki negeri”.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar