DIBALIK KEMEGAHAN SEBUAH KAMPUS MERAH



Ketika menginjakkan kaki di Universitas Hasanuddin, tentu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Kenapa tidak, Unhas yang tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Makassar, merupakan  Universitas terbesar di indonesia Timur. Selain itu, untuk dapat melangsungkan pendidikan ditempat ini, harus melalui persaingan yang super ketat. Sehingga ketika terpilih sebagai salah satu orang yang beruntung diantara ribuan orang, menjadi kepuasan tersendiri bagi kita. Namun ketika melihat gedung-gedung perkuliahan yang sekilas tampak mewah, sebenarnya terjadi beberapa polemik didalamnya. Diantaranya fasilitas-fasilitas yang disediakan.
Saat ini fasilitas kampus menjadi salah satu pokok pembicaraan yang cukup serius dikalangan akademisi. Tidak maksimalnya fasilitas perkuliahan maupun sarana-sarana pendukung menimbulkan keresahan dikalangan mahasiswa maupun dosen. Pihak birokrasi dianggap menyepelehkan permasalahn tersebut, padahal dengan tidak maksimalnya fasilitas kampus dapat menghambat jalannya perkuliahan maupun rutinitas lainnya, seperti agenda-agenda kelembagaan mahasiswa. Beberapa fakultas yang ada dilingkup universitas hasanuddin mengaku bahwa fasilitas yang diberikan oleh pihak birokrasi jauh dari standar, salah satunya adalah Fakultas Ilmu Budaya. Hampir 100% mahasiwa FIB mengeluhkan permasalahan tersebut, ada yang mempermasalahkan ruang perkuliahan, laboratorium, air dan toilet. Banyak mahasiswa yang terpaksa harus bersusah payah menjalankan ibadah ditempat lain hanya karena air yang tidak jalan ketika waktu shalat telah tiba, padahal FIB mempunyai mushallah yang bisa digunakan mahasiswa untuk beribadah, mahasiswa juga terpaksa harus pulang kerumahnya ketika ingin buang air walaupun masih jam kuliah, karena toilet yang disediakan sudah tidak layak pakai. Selain itu, beberapa dosen juga mengaku merasa terganggu dengan tidak memadainya fasilitas seperti ruang perkuliahan dan laboratorium.
Rul, salah satu mahasiswa FIB jurusan sastra daerah mengatakan, “mengenai permasalahan air dan toilet, lembaga fakultas telah beberapa kali mengkoordinasikan dengan pihak birokrasi, bahkan telah melakukan aksi tuntutan agar segera merenovasi toilet dan tidak menghambat jalannya air. Namun pihak birokrasi hanya memberikan janji-janji palsu kepada kami. Karena sampai saat ini, toilet belum juga direnovasi dan air juga kadang tidak mengalir. Sehingga ketika ingin beribadah atau buang air, kami terpaksa harus beralih ke masjid kampus. Namun kami tidak akan tinggal diam melihat situasi ini” tuturnya, saat diwawancarai di mace-mace. Begitu pula dengan Pak Supriadi ketua jurusan Arkeologi, beliau mengatakan “tidak maksimalnya ruang perkuliahan sering menghambat aktivitas akademik. Dosen dan mahasiswa harus antri untuk menjalankan proses perkuliahan, karena keterbatasan ruangan. Padahal saya sudah beberapa kali mengkoordinasikan permasalahan ini kepada Dekan FIB”. tuturnya, saat diwawancarai di mace-mace.
Begitulah polemik yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya, belum lagi yang terjadi dibeberapa fakultas lain dilingkup Universitas Hasanuddin. Jadi pihak birokrasi tidak boleh sepenuhnya menyalahkan mahasiswa ketika buang air disembarang tempat, begitupun ketika terjadi pertikaian karena saling berebutan ruang perkuliahan. Dan jangan pula menyalahkan mahasiswa ketika mereka melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut hak-hak mereka selama masih tercatat sebagai mahasiswa. Karena kalian (pihak birokrasi) tidak serius menanggapi permasalahan-pertmasalahn tersebut. kalian tidak mampu memberi solusi yang tepat. Padahal itu sudah menjadi hak mereka, untuk mendapatkan fasilitas yang memadai selama menjalankan perkuliahan.

bilamana senjata telah ditodongkan di kepalamu
masihkah kau ingin berjuang?
bilamana keadaan tidak lagi berpihak padamu
masih kau ingin melanjutkannya?

pernahkah kau berfikir bahwa, sesungguhnya kau hanyalah orang yang mengidap penyakit gelisah?
di mana penyakit itu tidak akan pernah ada penawarnya
pernahkah kau berfikir bahwa, kau hanya dianggap sebagai orang malas
yang lebih senang membuat kegaduhan di tengah jalan

tidak kah kau berfikir bahwa, menikmati empuknya ranjang dan bermimpi indah
lebih menyenangkan dibandingkan jika kau harus melewati  hari-harimu
dengan duduk bersama mereka yang tidak pernah puas dengan apa yang didapatkan, sambil mendiskusikan berbagai hal yang akan terus, bahkan dapat mengancam nyawamu dan mereka.

tidak kah kau berfikir untuk berhenti, karena apa yang kau harapkan hanya akan menjadi mimpi
mimpi dimana kaupun tidak pernah tahu ujungnya