korban tuntut kapolres morowali

Makassar. Terkait kasus penembakan sejumlah aktivis di kabupaten morowali sulteng, yang menewaskan 2 orang dan 6 luka-luka, Andri Sondeng selaku salah satu korban penembakan menuntut agar kapolres Morowali dipenjara. “ini adalah pelanggaran HAM, karena menghilangkan nyawa manusia, kapolreslah yang memberi instruksi untuk melakukan penembakan, maka dia harus bertanggung jawab”, tutur Andri.  
Aksi yang menewaskan beberapa aktivis ini bermula dari adanya pengeboran minyak terhadap laut morowali yang dilakukan oleh PT MEDCOM, dimana pengeboran tersebut merampas lahan mata pencaharian warga setempat. Hal ini terjadi sejak tahun 2007, Andri mengatakan bahwa telah melakukan beberapa kali proses diplomasi terhadap pemerintah setempat, namun dia tidak mendapatkan respon apa-apa.
Melihat tidak adanya respon dari pemerintah setempat, andri akhirnya menghimpun beberapa putra-putra daerah bersama masyarakat setempat untuk melakukan perlawanan terhadap PT. MEDCOM. “kami punya pilihan, dan terpaksa kami memilih untuk melakukan perlawanan, dan kami mempertaruhkan darah dan tulang untuk merebut kembali hak-hak yang dirampas”, ucap Andri.
Pada awal agustus 2011, andri bersama 23 orang massa melakukan aksi di perairan morowali, dan melakukan pengrusakan terhadap beberapa fasilitas PT MEDCOM. “hal ini terpaksa kami lakukan, agar pihak PT MEDCOM mau bertemu dengan kami, karena setelah tiga tahun melakukan diplomasi tapi tidak mendapatkan respon apa-apa”, tuturnya. Andri juga mengaku pernah mengancam akan meledakkan bom, agar pihak kepolisian dan pengembang mau mendengarkan mereka. “namun itu semua hanya sekedar ancaman”, ucap andri.
Karena kembali tidak mendapatkan respon apa-apa, pada tanggal 20 agustus, Andri bersama 120 orang massa kembali melakukan aksi di kantor PT MEDCOM, untuk menuntut. Namun yang terjadi adalah pihak kepolisisan malah melakukan penembakan terhadap dirinya, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri”. Jumlah aparat yang mengahadang kami diperkirakan berjumlah ratusan, seimbang dengan jumlah massa aksi”, ucap andri saat mencoba menjelaskan kembali kronologis kejadian.
Tidak lama berselang setelah andri selaku koordinator lapangan aksi sekaligus mahasiswa pascasarjana UGM jogja dievakuasi karena luka tembak yang dialaminya, massa aksi kembali ingin menerobos gerbang untuk bertemu dengan pihak PT MEDCOM. Namun aparat kepolisian yang berjumlah ratusan kembali melakukan penembakan yang membabi buta terhadap massa aksi, dan akhirnya massa yang tidak dapat menghindar terkena tembakan. “jumlah keseluruhan yang terkena tembakan adalah 8 orang, dua tewas dan 6 luka-luka, termasuk saya sendiri, padahal massa tidak melakukan tindak kekerasan”,  ucap andri. Andri sendiri tidak mengetahui penyebab penembakan tersebut, namun menurut informasi yang didapatkannya, penembakan itu terjadi karena adanya isu bahwa massa menahan salah satu anggota kepolisian. “itu semua tidak benar, kami tidak pernah menyandra anggota kepolisian, itu hanya fitnah”, ucapnya.
Lebih anehnya, beberapa masyarakat sekitar yang menjadi penonton ikut menjadi korban penembakan.  “jangankan kami, masyarakat yang tidak bersalah pun ikuit menjadi korban, ini betul-betul biadab”, tutur Andri.
Andri juga mengatakan bahwa akan kembali melakukan aksi jika dirinya telah pulih. “saya akan kembali angkat badik melawan kapitalisme jika saya telah pulih, ini tidak bisa dibiarkan, kalau  kasus ini lolos, aparat kepolisian akan semakin membabi buta melakukan hal serupa pada teman-teman aktivis diseluruh nusantara, dan saya akan menuntut agar kapolres morowali dipenjara”, ucapnya. Andri mengaku telah meminta bantuan kepada beberapa pengacara untuk membantu mengusut kasus ini.

gubukku, sekolahku

Ditengah sulitnya menempuh pendidikan akibat biaya yang tidak dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, membuat banyak orang menjadi masa bodoh dengan pendidikan terhadap anak-anaknya. Banyak orang tua yang terpaksa harus menyuruh anaknya mencari nafkah di usia dini agar dapat membantu beban orang tua. Namun, itu tidak menjadi halangan bagi Syamsuardi, anak berumur 11 tahun yang tinggal disebuah daerah kumuh untuk tetap belajar ditengah kondisi ekonomi yang memaksa dirinya harus mencari nafkah diusianya yang masih sangat muda.
Sejak tahun 2006, syamsuardi dan teman-temannya harus mengisi kesehariannya dengan mencari sampah-sampah plastik di dalam kampus Unhas, untuk dikumpulkan dan kemudian dijual. Hal ini terpaksa dia lakukan sebab tuntutan ekonomi dan orang tuanya, dan karena profesinya tersebut, dia terpaksa tidak bersekolah, walaupun dalam hati nuraninya yang terdalam, dia sangat ingin bersekolah seperti anak-anak seusianya.  “biasanya, saya dapat mengumpulkan 2 sampai 3 karung sampah setiap harinya, tapi walaupun begitu, saya tetap berusaha belajar sendiri pada malam harinya, karena tidak ada yang mau mengajari saya”, ucap Suardi.
Pada tahun 2007, sekelompok mahasiswa berinisiatif membentuk sekolah alternatif yang bernama sekolah kami didaerah tersebut, karena melihat kondisi masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya pendidikan. Akhirnya, syamsuardi dan kawan-kawannya mencoba untuk berkonsentrasi menerima pelajaran yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa tersebut. Namun awalnya, itu semua tidak berjalan lancar, karena orang tua Syamsuardi menginginkan dirinya untuk tetap menjadi pemulung. Karena, orang tuanya takut bilamana dirinya telah sibuk belajar dan melupakan tugasnya untuk menjadi pemulung.    
Tetapi melihat kegigihan suardi yang mau terus belajar, dimana ketika telah menjalankan tugasnya untuk mencari sampah, suardi mencoba untuk tetap belajar berhitung seorang diri pada malam harinya, orang tuanya pun memberi dia izin untuk ikut dalam sekolah rakyat tersebut, asalkan dia tidak meninggalkan tugasnya untuk mencari sampah.
Akhirnya Syamsuardi kembali mengkonsentrasikan dirinya mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan. Walaupun sekolah itu didirikan ditengah gundukan sampah dengan bau yang kurang nyaman, dan kelasnya yang berada dikolong gubuk, tidak membuat Syamsuardi dan kawan-kawannya untuk berhenti belajar. “ kita harus tetap belajar, siapa sih yang mau jadi orang bodoh, walaupun saudara-saudara saya tidak ada yg sekolah, tapi saya tidak mau seperti itu. Saya pun bersyukur dan sangat senang dengan kehadiran kakak-kakak ini, karena dengan kehadiran mereka, saya dan teman-teman dapat belajar, mudah-mudahan sekolah ini bisa terus berlanjut, agar lebih banyak yang mau belajar, karena sebelumnya, semuanya hanya masa bodoh, dan somoga kakak-kakak tidak bosan untuk mengajar kami, saya memberi nama sekolah ini sekolah gubuk, walaupun kakak-kakak memberi nama sekolah kami ”, tutur suardi sambil tertawa.
Walaupun suardi bersekolah disekolah rakyat tersebut, dia harus tetap menjalankan tugasnya untuk mencari sampah untuk dijual. Biasanya, dia mulai bekerja di jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Setelah bekerja, dia bersama teman-temannya melanjutkan pelajaran bersama-sama disekolah tersebut hingga pukul 7 malam, karena pukul 8 mereka sudah harus istirahat agar besoknya dapat bangun pagi mencari sampah.  
Adapun pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan sangat beragam, karena itu semua tergantung pada mereka., apapun yang ingin mereka ketahui, akan diwadahi oleh para pengajar. “disini kami belajar matematika, bahasa inggris, IPA, dan mengaji, kami juga diberi kebebasan untuk mengetahui hal-hal lain, seperti membuat hasil-hasil kerajinan tangan, berbicara didepan umum, dan ada juga jalan-jalannya. Selain itu, tempat belajarnya juga berpindah-pindah, dimanapun kami mau, seperti belajar di pinggir danau”, tutur suardi.
Metode pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan yang lain, dan mengutamakan kebebasan dalam belajar, anak-anak pun menjadi semangat untuk terus belajar walaupun berada ditengah gundukan sampah dengan bau yang tidak sedap. “kakak-kakak orangnya asyik, mau mengajarkan apapun yang kami mau, dan di manapun kami mau belajar, tidak ada tekanan, kami diberi kebebasan. Kakak-kakak juga tidak pernah lelah walaupun sebenarnya mereka sendiri sibuk dengan kuliahnya,”, ucap andri, yang juga salah satu murid sekolah itu.
Pada tahun 2009, Syamsuardi meminta kepada para pendiri sekolah rakyat untuk membantu memasukkan dirinya disekolah formal, karena dia ingin merasakan bagaimana rasanya memperoleh pelajaran disekolah formal. Selain itu, dia juga terkendala karena tidak memiliki akta kelahiran. Akhirnya dengan bantuan beberapa mahasiswa, diapun telah berada dibangku kelas 2 SD Kantisang hingga saat ini. “sudah banyak teman-teman saya yang bersekolah disekolah formal setelah 2 tahun memperoleh pelajaran disekolah rakyat ini, dan kami dibantu oleh kakak-kakak mahsiswa”, ucap suardi
Walaupun suardi dan teman-temannya telah ada yang masuk ke sekolah formal, namun mereka tetap melanjutkan kegiatan-kegitannya disekolah rakyat. Hal ini dikarenakan suardi dan kawan-kawannya merasa bahwa banyak hal yang bisa mereka dapatkan disekolah ini, dan tidak mereka dapatkan dibangku sekolah formal. “saya masuk ke sekolah formal karena punya cita-cita untuk menjadi tentara, dan saya harus melanjutkan sekolah hingga SMA, kalau perlu sampai kuliah. Namun, kami tetap melanjutkan kegiatan-kegiatan disekolah ini, karena banyak pelajaran-pelajaran yang tidak kami dapatkan dibangku sekolah, tapi kami dapatkan di sekolah alternatif ini, seperti cara-cara bermasyarakat dan keterampilan-keterarampilan lainnya. Saya juga tidak mau kalau sekolah ini bubar, karena berkat sekolah inilah kami bisa banyak tau”, tutur suardi.
Karena Syamsuardi telah masuk ke sekolah formal, terpaksa dia harus jadi lebih sibuk. pukul 7 pagi hingga pukul 10, dia belajar disekolah formal, setelah pulang dari sekolah, dia kembali mencari sampah hinnga pukul 5 sore. Setelah itu belajar lagi disekolah gubuk . namun karena ada beberapa teman-temannya yang masuk sekolah disiang hari, yaitu dari pukul 2 siang hingga pikul 5 sore, terpaksa proses belajar disekolah gubuk hanya berjalan setiap hari sabtu dan minggu. “walaupun hanya belajar setiap hari sabtu dan minggu, kami tetap merasa senang. Apa boleh buat, karena kami tidak ingin ada teman yang ketinggalan pelajaran disekolah gubuk ini, jadi kakak-kakak mencari waktu dimana kami semua dapat belajar bersama-sama”, ucap suardi.

Hiruk Pikuk PMB UNHAS 2011

Prosesi penerimaan mahasiswa baru Universitas Hasanuddin tahun 2011 yang telah berlangsung selama dua hari, dimana pada hari ini berlangsung ditingkatan fakultas setelah disambut ditingkatan universitas, dan salah satunya yang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya, berlangsung cukup meriah.

Prosesi penerimaan mahasiswa baru yang merupakan agenda tahunan Universitas Hasanuddin, pada tahun ini berlangsung di bulan ramadhan. Namun, itu tidak menjadi hambatan buat panitia lembaga kemahasiswaan dan pihak birokrasi Fakultas Ilmu Budaya Unhas untuk tetap mengadakan penyambutan kepada adik-adik mahasiswa baru, walaupun pada tahun ini, PMB tidak dapat diadakan di Fakultas sendiri, namun diadakan diluar fakultas yakni di gedung registrasi UNHAS. Hal ini disebabkan oleh pengerjaan gedung aula Mattulada FIB-UH yang belum rampung hingga saat ini. Adapun jumlah mahasiswa baru yang diterima fakultas ilmu budaya pada tahun ini sebanyak 382 orang, dan berasal dari berbagai daerah seperti Makassar, Pangkep, Maros, Palopo, Toraja, dan masih banyak lagi.

Penerimaan mahasiswa baru yang pada tahun ini tidak bisa diadakan di fakultas sendiri menuai sedikit kekecewaan dari pimpinan Fakultas Ilmu Budaya, seperti yang diungkapkan oleh Drs Amir P M. Hum selaku Wakil dekan II FIB-UH yang mengatakan bahwa sangat disesalkan karena aula yang awalnya dipersiapkan untuk PMB masih dalam perbaikan.  Namun dia merespon positif antusias lembaga kemahasiswaan yang kembali mengambil peran dalam PMB tahun ini. “saya sangat senang dengan adanya kerjasama antara pihak birokrasi dan lembaga kemahasiswaan FIB-UH , ini membuktikan bahwa ada kesadaran dari kedua belah pihak untuk sama-sama membentuk dan membina mahasiswa baru menjadi lebih baik”, ucap Amir. 

Selain itu, amir juga menambahkan bahwa panitia harus tetap memahami bahwa sebagian besar mahasiswa baru adalah umat islam, sehingga jangan sampai kegiatan ini mengganggu ibadah seperti puasa dan shalat lima waktu. “saya salut kepada mahasiswa baru karena tetap kuat menjalani PPMB di bulan ramadhan, dan saya juga berharap agar mereka mau mengikuti seluruh prosesi ini, karena sangat bermanfaat ketika mereka selesai, utamanya pada soft skill”, ucapnya.

Pihak lembaga kemahasiswaan FIB-UH juga merasa kecewa dengan PMB tahun ini yang diadakan diluar fakultas. Karena, dari PMB sebelumnya, selalu berlangsung didalam kampus. “ada sedikit kekecewaan pada kami selaku pihak lembaga kemahasiswaan, karena sangat ideal jika PMB diadakan dirumah sendiri. Mestinya dari awal, permasalahan tempat harus direalisasikan terlebih dahulu, tapi saya tetap salut kepada kawan-kawan panitia yang tetap semangat, serta adik-adik mahasiswa baru yang sangat antusias. Hal ini terbukti ketika materi berlangsung, dimana adik-adik tetap aktif bertanya, menanggapi, serta berdialog dengan senior”, ucap Andi, selaku ketua badan eksekutif mahasiswa FIB-UH.

Selain itu, andi juga menjelaskan bahwa lembaga kemahasiswaan merasa perlu terlibat dalam PMB tahun ini karena harus ada doktrin-doktrin kelembagaan dari awal yang disampaikan oleh senior-senior, agar dapat segera mengambil alih kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Tetapi, ternyata kekecewaan tidak hanya dirasakan oleh pihak birokrasi dan lembaga kemahasiswaan. Namun, kekecewaan itu juga ikut dirasakan oleh beberapa mahasiswa baru. Seperti yang dirasakan oleh Linn Lucianna Marumbo, mahasiswa asal Tana Toraja yang saat ini lulus di jurusan sastra perancis.  Linn mengatakan bahwa ada kekecewaan pada dirinya pribadi karena tidak disambut dirumahnya sendiri, yaitu Fakultas Ilmu Budaya. “notabene ini adalah bagian dari Fakultas Ilmu Budaya, mestinya acaranya ya di fakultas sendiri”, ucap Linn.

Tapi walaupun tidak diadakan di fakultas sendiri, linn mengaku cukup senang dengan PMB ini. Karena suasananya yang dinamis, tidak kaku, dan senior-senior yang juga cukup agresif mengurusi adik-adiknya selama kegiatan berlangsung. Selain itu, dia juga salut kepada teman-teman yang beragama islam karena masih mampu berpuasa ditengah cuaca yang sangat panas ini.

Linn juga merasakan ada beberapa kakak senior yang sedikit galak, namun itu merupakan hal biasa untuknya. “beginilah seni dari ospek, harus ada senior yang galak, agar mahasiswa baru juga tidak jadi manja, dan saya juga merasa PMB ini tidak terlalu keras seperti yang kubayangkan sebelum masuk ke Unhas”. Ucapnya.

RUU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Dinilai Hanya Akan Menambah Konflik Agraria


MAKASSAR. Diskusi publik menolak pengesahan RUU pengadaan tanah untuk pembangunan yang diadakan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) berlangsung di hotel Losari Beach dan dihadiri Sekitar 30 peserta. Dalam diskusi ini, hadir beberapa narasumber diantaranya, Idham Arsyad (Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria), Prof. Farida Patittingi, SH. MH (Pakar Hukum Agraria, Akademisi Unhas), Tan Malaka Guntur (Kepala Bappeda Sul-Sel), dan Drs. Roli Irawan, SH, MM. (Kakanwil BPN Provinsi Sul-Sel).
Dalam diskusi ini, Tan Malaka Guntur selaku Kepala Bappeda sul-Sel mengatakan bahwa, “RUU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan ini  semata-mata hanya untuk kesejahteraan rakyat. Dapat kita lihat bagaimana pembangunan jalan Makassar-Pare, itu semua sudah ada kesepakatan sebelum pembangunan.  
Berbeda dengan yang dikatakan oleh Idham Arsyad selaku Sekjen KPA. Dia mengatakan bahwa, “pembuatan RUU tanah untuk pembangunan tidak merujuk pada pasal-pasal penting dalam UUD 1945 dan UU terkait. Seperti, UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dimana dalam RUU tersebut, tidak dijelaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi sebelum pengalihan tanah. Pasal 28h ayat 4, UUD 1945“setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-sewang oleh siapa pun”. Dengan tidak adanya penjelasan tersebut dalam RUU, kemungkinan besar hanya menambah konflik agraria. Selain itu, pemaknaan “kepentingan umum” dalam RUU dimaknai menjadi infrastruktur. Tidak ada penjelasan yang jelas, sehingga Sangat berpotensi ditafsirkan secara monopolistik oleh pihak penguasa dan diterapkan sewenang-wenang oleh aparat penegak hukum.
Perampasan dan Penggusuran Tanah- Tanah Rakyat akan semakin marak terjadi, mengingat hanya sedikit tanah-tanah rakyat yang dilindungi dokumen hukum yang lengkap. Sampai tahun 2008, jumlah tanah rakyat bersetifikat baru 39 juta bidang dari 85 juta bidang tanah (belum termasuk tanah-tanah yang berada di kawasan hutan dan kawasan yang dikuasai oleh masyarakat adat). Artinya seitar 60 % belum terlindungi secara hukum. Lantas, Jika kepemilikan dengan bukti sertifikat yang menjadi dasar ganti rugi tanah yang diambil, lalu bagaimana dengan nasib tanah-tanah tanpa sertifikat yang jumlahnya jauh lebih banyak itu?”.
Dugaan  ini diperkuat oleh Prof. Dr. Farida Patitingi, SH. MH selaku pakar hukum agraria sekaligus akademisi Unhas. Dimana beliau mengatakan bahwa “RUU ini terkesan sangat otoriter, seprti yang dijelaskan Pasal 28h ayat 4, UUD 1945bahwa setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-sewang oleh siapa pun. Namun jika kita mencermati RUU tersebut, kita akan menemukan hal yang sebaliknya, yaitu berdasarkan pada suatu konsepsi yang cenderung otoriter yang mengarah pada upaya “pemaksaan” kehendak dari negara dalam perolehan tanah untuk kepentingan pembangunan tersebut. Karena ketika suatu tanah sudah ditetapkan sebagai tempat pembangunan untuk kepentingan umum, maka masyarakat pemilik atau yang berhak atas tanah wajib melepaskan hak atas tanahnya. Kewajiban ini tidak berimbang dengan kepentingan pemilik atau yang berhak atas tanah untuk memperoleh penggantian yang adil dari pengorbanannya tersebut.
Drs. Roli Irawan, SH, MM selaku Kakanwil BPN Provinsi Sul-Sel juga mengatakan bahwa, dalam masalah sertifikat tanah, sering terjadi kecurangan. Dimana masih banyak pegawai nakal yang sering bekerjasama dengan pemodal untuk penggandaan sertifikat. Beliau berjanji akan lebih memperketat pengawasan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulawesi Selatan adalah daerah yang berada di urutan teratas konflik agraria. Salah satu contohnya adalah, yang terjadi di Pandang Raya. Salah satu pemukiman kumuh di daerah Panakukang Makassar, terancam digusur oleh pengusaha bernama Goman Waisan. “Tanah kami itu terbukti bersertifikat, namun pemerintah bahkan melegalkan usaha goman”. Ucap bapak Andi, selaku tokoh masyarakat Pandang Raya, yang juga sempat menghadiri diskusi.

Makassar Lalui Ramadhan Dimusim Kemarau


 Makassar. Ramadhan ditahun ini, Makassar berada disalah satu daerah dengan kemungkinan curah hujan yang rendah. Hal ini diungkapkan oleh Andi cahyono selaku Prakirawan Badan Meteorologi  dan geofisika Makassar (BMKG)saat diwawancarai dikantornya.
“Tahun ini, Makassar akan melalui ramadhan dengan suhu 20-34 C, dan diperkirakan bahwa peluang untuk hujan sangat sedikit, atau dengan kata lain mengalami musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh periode angin yang mengarah ke timur dengan kecepatan 10-37 km/jam, jadi hanya daerah Sulawesi bagian timur seperti Sinjai, Bone, dan Bulukumba yang mempunyai peluang untuk hujan. Selain Makassar, musim kemarau juga akan dialami oleh daerah Barru, Parepare dan sekitarnya. Namun itu tidak akan berpengaruh besar jika dibandingkan dengan keadaan dilaut, seperti Selat Makassar. Karena angin yang bertiup ke timur, gelombang air diperkirakan naik sebanyak ½-2,5 meter,dan itu akan berpengaruh besar dengan arus mudik saat hari raya nanti, utamanya jalur Makassar-Selayar”. Ucap Andi saat ditemui di kantor BMKG Makassar siang tadi.    
Andi menambahkan, “melihat kondisi Makassar yang padat kendaraan, ditambah dengan cuaca yang telah memasuki puncak dari musim kemarau, tidak menutup kemungkinan bahwa segenap aktivitas akan berkurang selama ramadhan, karena pertimbangan puasa”.  Ucapnya.
Hal itu terbukti dengan adanya beberapa jalan di Makassar yang tampak lengang di awal Ramadhan. Hal ini dapat kita lihat dibeberapa jalan seperti JL. Penghibur dan JL.Nusantara.
Menurut Fardi, salah satu tukang parkir Hotel Losari Beach mengatakan bahwa, “daerah ini terkenal dengan daerah hiburan. Oleh karena itu, kendaraan akan kurang yang melintas jika siang hari, karena banyak tempat hiburan dan warung makan yang tutup. Jika telah masuk waktu buka puasa, baru jalan ini ramai oleh orang-orang yang akan berbuka puasa disejumlah tempat makan.
Andi kembali menambahkan bahwa  “berbeda dengan daerah Sulawesi bagian atas seperti Palopo, Malili dan Toraja, yang juga masih mempunyai peluang besar untuk hujan”.  Ucapnya.

Makassar Menuju Kota Dunia, surga atau neraka?


Dengan alasan modern, Makassar yang dikenal dengan sebutan kota ‘Anging Mamiri’, tidak lama lagi akan disulap menjadi kota yang akan dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit, pusat-pusat perbelanjaan, yang akan menambah gemerlapnya Kota Makassar. Namun, apakah
kita membutuhkan semua itu?”

            Ketika mendengar ‘kota dunia’, mungkin kita akan membayangkan sebuah kota yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah, bangunan dengan arsitektur yang diadopsi dari berbagai negara, gedung-gedung pencakar langit, dan yang pastinya seluruh bentuk fisiknya bersifat modern. Lalu, bagaimana jika image kota dunia sebentar lagi akan disandang oleh Makassar?. Mungkin akan menjadi sebuah kebanggaan. Menjadikan Makassar sebagai kota dunia, merupakan visi pemerintah kota Makassar. Namun, benarkah masyarakat Makassar membutuhkan semua itu?, atau hanya angan-angan dari para penguasa saja, yang akan membawa petaka bagi sebagian besar masyarakat Makassar,
            Berbicara mengenai kebutuhan, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tempat tinggal, pekerjaan, dan makanan akan menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Tidak terkecuali masyarakat Makassar, baik kaya maupun miskin. Namun ketika Makassar telah menjadi kota dunia, kota ini akan dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit, dan berbagai macam bangunan modern yang menjadi simbolnya akan memenuhi tiap-tiap sudut kota, tanpa memikirkan dampak dari pembangunan tersebut terhadap masyarakat Makassar.  Selain itu, apakah dengan pembangunan gedung yang mewah, kebutuhan pokok masyarakat akan terpenuhi?. Maka dari itu, mari kita menilik lebih jauh.
            Program Pemerintah Kota Makassar menuju kota dunia telah berjalan sekitar dua tahun. Saat ini, tengah menjalankan salah satu proyeknya di sepanjang jalan Metro Tanjung Bunga yang dikenal dengan Center Point of Indonesia (CPI). Nantinya, kawasan CPI akan dipenuhi dengan beberapa pusat perbelanjaan seperti mall, wahana hiburan, dan wisma Negara. Tapi ternyata pembangunan mengalami persoalan, karena lokasi pembangunan terletak di daerah pemukiman warga yang dijadikan sebagai sumber mata pencaharian untuk kelangsungan hidupnya.
Sebagain besar warga yang tinggal di lokasi tersebut, berprofesi sebagai nelayan tradisional. Karena letak geografisnya berada di daerah pesisir. Pembangunan CPI berupa gedung-gedung megah di kawasan pesisir, tentunya mebawa efek serius terhadap masyarakat sekitar.
Sebentar lagi kawasan tersebut akan menjadi daerah elite, yang hanya dapat diinjak oleh orang-orang berkemampuan ekonomi lebih, untuk menikmati fasilitas-fasilitas modern. Lalu bagaimana dengan nasib para nelayan tradisional itu?, tentu saja mereka harus angkat kaki, karena daerah itu akan dipenuhi dengan gedung-gedung megah dengan tembok pembatas dan  berbagai aturan yang akan membedakan status sosial antara si kaya dan si miskin. Mereka tidak bisa lagi menggunakan daerah tersebut untuk mencari nafkah. Lalu kemana mereka akan pergi, dan bagaiamana nasib mereka ke depannya?, tidak ada yang tahu.
Selain itu, masyarakat miskin dengan penghasilan rendah yang tinggal di sekitar Kawasan Pembangunan CPI, hanya akan dapat menjadi penonton setia melihat megahnya gedung pencakar langit, mereka hanya bisa bermimpi untuk menginjakkan kakinya di tempat tersebut, karena permasalahan ekonomi. Jadi apakah itu semua adalah kebutuhan bersama?, ternyata tidak, karena itu semua hanyalah kepentingan segelintir orang saja dan semakin memperjelas batas-batas antara si kaya dan si miskin.
Lain halnya yang terjadi dengan masyarakat Pandang Raya, sebuah perkampungan kumuh yang bertempat di daerah Panakkukang, Makassar, bersebelahan dengan mall,  terancam digusur oleh seorang pengusaha. Pemukiman warga Pandang Raya akan dimanfaatkan untuk pembangunan pusat perbelanjaan. Padahal tanah yang sudah mereka tinggali selama 20 tahun itu, jelas memiliki akta dan surat kepemilikan. Namun anehnya,, pemerintah yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung, malah lebih memihak kepada si pemodal daripada rakyatnya sendiri. Lalu, dimana keadilan itu kalau rakyat miskin selalu menjadi tumbal dari apa yang disebut pembangunan dan kemunafikan para penguasa.
Itu semua adalah sebagian kecil potret dari dampak visi “Makassar go to world city”. Jadi benarkah kita semua membutuhkan kota dunia?, apakah kita masih akan mengagung-agungkannya?. Kota dunia itu hanya berisi ambisi para penguasa.  Mereka tidak ingin kotanya dikatakan ketinggalan jaman, karena tidak mempunyai gedung-gedung pencakar langit, mall-mall besar dan seluruh bangunan-bangunan modern, tanpa memikirkan kepentingan banyak orang. Sedangkan di dalamnya, masih banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena kelaparan, karena mempertahankan apa yang menjadi hak mereka, apakah itu yang dinamakan kota modern? Kota yang berisi kemunafikan dan hanya membawa keuntungan bagi segelintir orang.

DIBALIK KEMEGAHAN SEBUAH KAMPUS MERAH



Ketika menginjakkan kaki di Universitas Hasanuddin, tentu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Kenapa tidak, Unhas yang tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Makassar, merupakan  Universitas terbesar di indonesia Timur. Selain itu, untuk dapat melangsungkan pendidikan ditempat ini, harus melalui persaingan yang super ketat. Sehingga ketika terpilih sebagai salah satu orang yang beruntung diantara ribuan orang, menjadi kepuasan tersendiri bagi kita. Namun ketika melihat gedung-gedung perkuliahan yang sekilas tampak mewah, sebenarnya terjadi beberapa polemik didalamnya. Diantaranya fasilitas-fasilitas yang disediakan.
Saat ini fasilitas kampus menjadi salah satu pokok pembicaraan yang cukup serius dikalangan akademisi. Tidak maksimalnya fasilitas perkuliahan maupun sarana-sarana pendukung menimbulkan keresahan dikalangan mahasiswa maupun dosen. Pihak birokrasi dianggap menyepelehkan permasalahn tersebut, padahal dengan tidak maksimalnya fasilitas kampus dapat menghambat jalannya perkuliahan maupun rutinitas lainnya, seperti agenda-agenda kelembagaan mahasiswa. Beberapa fakultas yang ada dilingkup universitas hasanuddin mengaku bahwa fasilitas yang diberikan oleh pihak birokrasi jauh dari standar, salah satunya adalah Fakultas Ilmu Budaya. Hampir 100% mahasiwa FIB mengeluhkan permasalahan tersebut, ada yang mempermasalahkan ruang perkuliahan, laboratorium, air dan toilet. Banyak mahasiswa yang terpaksa harus bersusah payah menjalankan ibadah ditempat lain hanya karena air yang tidak jalan ketika waktu shalat telah tiba, padahal FIB mempunyai mushallah yang bisa digunakan mahasiswa untuk beribadah, mahasiswa juga terpaksa harus pulang kerumahnya ketika ingin buang air walaupun masih jam kuliah, karena toilet yang disediakan sudah tidak layak pakai. Selain itu, beberapa dosen juga mengaku merasa terganggu dengan tidak memadainya fasilitas seperti ruang perkuliahan dan laboratorium.
Rul, salah satu mahasiswa FIB jurusan sastra daerah mengatakan, “mengenai permasalahan air dan toilet, lembaga fakultas telah beberapa kali mengkoordinasikan dengan pihak birokrasi, bahkan telah melakukan aksi tuntutan agar segera merenovasi toilet dan tidak menghambat jalannya air. Namun pihak birokrasi hanya memberikan janji-janji palsu kepada kami. Karena sampai saat ini, toilet belum juga direnovasi dan air juga kadang tidak mengalir. Sehingga ketika ingin beribadah atau buang air, kami terpaksa harus beralih ke masjid kampus. Namun kami tidak akan tinggal diam melihat situasi ini” tuturnya, saat diwawancarai di mace-mace. Begitu pula dengan Pak Supriadi ketua jurusan Arkeologi, beliau mengatakan “tidak maksimalnya ruang perkuliahan sering menghambat aktivitas akademik. Dosen dan mahasiswa harus antri untuk menjalankan proses perkuliahan, karena keterbatasan ruangan. Padahal saya sudah beberapa kali mengkoordinasikan permasalahan ini kepada Dekan FIB”. tuturnya, saat diwawancarai di mace-mace.
Begitulah polemik yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya, belum lagi yang terjadi dibeberapa fakultas lain dilingkup Universitas Hasanuddin. Jadi pihak birokrasi tidak boleh sepenuhnya menyalahkan mahasiswa ketika buang air disembarang tempat, begitupun ketika terjadi pertikaian karena saling berebutan ruang perkuliahan. Dan jangan pula menyalahkan mahasiswa ketika mereka melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut hak-hak mereka selama masih tercatat sebagai mahasiswa. Karena kalian (pihak birokrasi) tidak serius menanggapi permasalahan-pertmasalahn tersebut. kalian tidak mampu memberi solusi yang tepat. Padahal itu sudah menjadi hak mereka, untuk mendapatkan fasilitas yang memadai selama menjalankan perkuliahan.

bilamana senjata telah ditodongkan di kepalamu
masihkah kau ingin berjuang?
bilamana keadaan tidak lagi berpihak padamu
masih kau ingin melanjutkannya?

pernahkah kau berfikir bahwa, sesungguhnya kau hanyalah orang yang mengidap penyakit gelisah?
di mana penyakit itu tidak akan pernah ada penawarnya
pernahkah kau berfikir bahwa, kau hanya dianggap sebagai orang malas
yang lebih senang membuat kegaduhan di tengah jalan

tidak kah kau berfikir bahwa, menikmati empuknya ranjang dan bermimpi indah
lebih menyenangkan dibandingkan jika kau harus melewati  hari-harimu
dengan duduk bersama mereka yang tidak pernah puas dengan apa yang didapatkan, sambil mendiskusikan berbagai hal yang akan terus, bahkan dapat mengancam nyawamu dan mereka.

tidak kah kau berfikir untuk berhenti, karena apa yang kau harapkan hanya akan menjadi mimpi
mimpi dimana kaupun tidak pernah tahu ujungnya