PAPUA


Pernah menginjaknya?
Pernah melihatnya?
Atau pernah mendengarnya?
Sebuah tempat yang katanya indah, damai nan tentram
Namun bukan itu yang ku alami

Papua, itulah nama yang diberikan kepada ku
Entah nama itu adalah karunia atau petaka

Aku mempunyai banyak cita-cita
Aku ingin agar manusia menyayangiku
Aku ingin agar manusia hidup damai dan tentram
terkhusus bagi mereka yang menginjakkan kakinya ditubuhku

Namun ternyata, cita-cita itu harus ku buang jauh-jauh.....
mengapa?
Itulah pertanyaan yang di lontarkan padaku
Dari mereka yang tak memahami kondisiku saat ini.

Inilah sedikit kisah yang ku alami....

Manusia yang ku harap menyayangiku,merawat ku.
Malah terus mengebor isi perutku demi harta dan tahta
Hari demi hari aku harus menangis karena kesakitan
Aku terus berdoa pada-Nya, agar rintihan ini terdengar ke seluruh pelosok dunia
hingga tiba saatnya ada yang berbaik hati mau menyelamatkan ku
 
Hingga tiba suatu hari
Aku berfikir bahwa doa ku telah terkabulkan
Suara puluhan manusia yang terus meneriakkan namaku, begitu menyentuh hatiku.
Aku mendengar suara mereka yang lantang, ingin menyelamatkan ku dari kematian.

namun.....
Dor..dor..
Mereka di tembaki oleh sekelompok orang berpakaian hijau
mengapa?
Ternyata para pembelaku dianggap penghalang untuk terus mengeruk isi perutku

Akupun kembali merintih..
meratapi nasibku
diciptakan dengan kekayaan yang melimpah
namun hanya menjadi petaka
dan hanya dinikmati oleh si tamak itu

bukan hanya itu
konflik pun terjadi dimana-mana
semua karena memperebutkan ku
akupun hanya bisa terus berdoa pada-Nya
sambil menahan rasa sakit ini.

Pemerasan dan penggusuran, solusi menuju World Class University?

“Demi ambisi menuju kota bersih dan world class university, pedagang kaki lima kembali menjadi korban”
        Saat ini, para pedagang kaki lima yang bertempat di daerah workshop unhas terancam akan kehilangan lahan mencari nafkah.  Hal ini disebabkan karena tanah yang mereka gunakan sebagai lahan berdagang adalah tanah milik Unhas. Sedangkan Unhas yang menjadi salah satu legitimasi Pemerintah Kota Makassar untuk mewujudkan visi menuju kota bersih, dan sesuai visi untuk menuju world class university, berniat menggusur para pedagang kaki lima yang di anggap kumuh dan mengganggu pemandangan. Hal ini dipertegas dengan diterbitkannya surat edaran Unhas yang memberikan ultimatum kepada para pedagang untuk segera membongkar tenda jualannya dalam waktu yang ditentukan.
      Namun karena para pedagang tidak merespon himbauan tersebut, maka unhas kembali mengeluarkan surat edaran yang kedua, yaitu undangan panggilan rapat untuk para pedagang. Menurut Bapak Hamka salah satu pedagang kaki lima, pertemuan tersebut bertujuan untuk menetapkan aturan akan adanya pajak jika para pedagang bersikeras untuk tetap menempati tanah tersebut. Selain itu para pedagang hanya boleh berjualan dimalam hari, dan tenda mereka tidak boleh didirikan pada siang hari, atau system bongkar pasang.  “system bongkar pasang tenda akan menyulitkan kami untuk berjualan, karena terlalu banyak barang yang harus kami angkat tiap harinya, apalagi untuk pedagang wanita yang tidak mempunyai suami”. Tutur pak hamka.
       Sedangkan untuk pajak yang akan diterapkan, harga untuk setiap pedagang berbeda-beda. Seperti Pak Hamka (pedagang nasi goreng) yang dikenakan 4 juta, mas gondrong (pedagang nasi goreng) 5 juta, Tia (pedagang gorengan) 8 juta, warung dian 15 juta, dan masih banyak lagi. Namun para pedagang masih tetap berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak Unhas guna mengurangi pajak yang akan diterapkan. Karena mereka merasa bahwa jumlah tersebut sangat memberatkan.
      Jika menyimak kronologis di atas, apa yang terjadi jika semua aturan tersebut akan diberlakukan untuk para pedagang kaki lima? Tentunya hal itu akan membawa beban yang berat untuk level pedagang kaki lima seperti mereka. Karena selain waktu untuk berdagang yang dibatasi, merekapun harus membayar pajak yang besar tiap tahunnya. Otomatis pendapatan mereka akan berkurang jika waktu untuk berdagang dibatasi, belum lagi pemasukan mereka harus disisihkan untuk urusan pajak. Maka sangat jelas akan menambah beban hidup.
     Tapi mengapa niat untuk menggusur berubah menjadi pemerasan terhadap para pedagang kaki lima? Mungkin pihak unhas ingin mengambil keuntungan lebih dari mereka. Mengingat kasus yang pernah dialami oleh para pedagang kaki lima di pintu dua unhas, dimana mereka terpaksa harus angkat kaki karena larangan berdagang dari pihak Unhas. Namun sebelum angkat kaki, mereka sempat dikenakan aturan untuk membayar pajak. Tapi ujung-ujungnya mereka tetap digusur. Sepertinya hal itulah yang akan menimpa para pedagang kaki lima workshop. Dimana pemerasan yang dilakukan oleh pihak  Unhas hanyalah dalih untuk mengusir mereka secara perlahan. Namun sebelum angkat kaki, terlebih dahulu pihak Unhas ingin menikmati uang setoran pajak para pedagang. Setelah menikmati, barulah mereka digusur. Karena visi menuju kota bersih dan world clas University akan terus berlanjut walau apa pun yang terjadi, meski harus mengorbankan masyarakat miskin. Sungguh tidak berperikemanusiaaan.
     Unhas yang merupakan salah satu PTN terbesar di Indonesia yang mempunyai visi pengabdian pada masyarakat hanyalah bualan belaka. Karena ambisi busuk para birokrasi tidak pernah memihak pada masyarakat kelas bawah. 

(hasil reportase di salah satu wilayah yang di huni oleh pedagang kaki lima)