Tentang Perempuan dan Regenerasi


“Jika hari ini generasi 80-an memimpin bangsa ini dan hendak membayangkan sepuluh tahun ke depan, maka yang perlu dipikirkan adalah kondisi generasi 90-an. Jika dua puluh tahun ke depan, maka generasi 2000-an. Begitulah seterusnya, hingga pada akhirnya kita dipaksa memikirkan anak-anak yang hari ini baru saja mengenal pendidikan formal—bahkan mereka yang masih berada dalam kandungan ibunya.”

Kurang lebih demikian kegelisahan seorang guru yang pernah saya dengar. Ia hendak mengatakan bahwa masa depan bangsa, bahkan dunia, tidak dibentuk secara tiba-tiba. Ia disusun jauh sebelum seseorang mengenal sekolah, kurikulum, atau negara. Semakin jauh kita membayangkan masa depan, semakin tak terelakkan kita memikirkan anak-anak yang hari ini waktunya masih dihabiskan untuk bermain. Bagaimana mereka belajar, apa yang mereka tonton, apa yang mereka makan—baik sebagai gizi tubuh maupun gizi pikiran—menjadi persoalan mendasar yang kerap dianggap remeh.

Pada fase paling awal kehidupan, rumah adalah ruang belajar pertama. Di sanalah seorang anak mulai mengenali bahasa, emosi, ketakutan, dan batas-batas dunia. Dalam kenyataan sosial yang masih kita hidupi hari ini, kerja pengasuhan paling intens di ruang ini masih banyak dijalankan oleh ibu. Bukan sebagai mitos kodrat yang turun dari langit, melainkan sebagai akibat dari pembagian kerja sosial yang menempatkan pengasuhan sebagai urusan domestik dan perempuan sebagai penanggung utamanya.


Justru di titik inilah persoalan serius mulai tampak.


Saya beberapa kali menyaksikan bagaimana kekerasan verbal dilontarkan kepada anak-anak atas nama kedisiplinan. Ancaman menusuk telinga, mematahkan kaki, atau bentuk intimidasi lain mungkin tidak pernah benar-benar dilakukan, tetapi telah lebih dulu hidup dalam imajinasi anak. Anak-anak itu diam, bukan karena mengerti, melainkan karena takut. Dan ketakutan, cepat atau lambat, akan menjadi cara mereka membaca relasi dan dunia.


Dalam situasi lain, ketidaktahuan tampil tanpa rasa bersalah. Anak-anak usia dini diperkenalkan pada tontonan orang dewasa, diajari melafalkan lagu-lagu yang maknanya belum sanggup mereka cerna, bahkan didorong meniru gaya hidup yang sama sekali bukan dunianya. Semua itu kerap dianggap hiburan belaka, seolah apa yang dikonsumsi anak di usia dini tidak akan meninggalkan jejak apa pun dalam cara berpikir dan merasakan mereka kelak.


Persoalan tersebut sering berjalan beriringan dengan pola konsumsi pangan yang serampangan. Makanan instan yang miskin gizi, sarat zat aditif, menjadi menu harian bukan semata karena alasan praktis, tetapi juga karena ketidaktahuan yang dinormalisasi. Tubuh dan otak yang tidak mendapatkan asupan layak akan kesulitan bertumbuh, dan anak yang kesulitan bertumbuh akan kesulitan belajar—apa pun sistem pendidikan yang kelak ia masuki.


Rangkaian kenyataan ini menimbulkan pertanyaan yang sulit dihindari: bagaimana mungkin kita berharap masa depan yang lebih baik, jika fase paling awal pembentukan manusia justru diisi oleh kekerasan, ketidaktahuan, dan pengabaian? Sebelum seorang anak berhadapan dengan sekolah, media, dan masyarakat luas, ia terlebih dahulu belajar memahami dunia melalui relasi terdekatnya. Di sanalah fondasi cara berpikir, merasakan, dan merespons realitas mulai dibangun.


Menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada institusi formal sambil mengabaikan pengasuhan di rumah adalah ilusi yang nyaman. Guru dan kurikulum tidak hidup bersama anak setiap hari; mereka tidak hadir di dapur, di ruang keluarga, atau dalam momen-momen kecil yang justru menentukan pembentukan watak. Dalam struktur sosial seperti ini, ibu tetap menjadi aktor kunci dalam proses regenerasi—bukan sebagai figur ideal yang disucikan, melainkan sebagai subjek yang memikul tanggung jawab besar di tengah tekanan ekonomi, budaya populer, dan minimnya dukungan sosial.


Karena itu, kemampuan mendidik anak tidak pernah jatuh dari langit sebagai naluri murni. Ia adalah kerja sadar yang menuntut pengetahuan, refleksi, dan kesediaan untuk terus belajar. Memahami jenis tontonan, bacaan, musik, pola makan, hingga cara berkomunikasi dengan anak bukanlah detail remeh, melainkan bagian dari kerja peradaban yang paling awal. Kekerasan verbal, betapapun dianggap lumrah, hanya akan mewariskan luka dan ketakutan, bukan daya pikir dan keberanian.


Di titik inilah perdebatan tentang pendidikan dan emansipasi perempuan kerap dibelokkan. Dalam wacana yang dominan hari ini, pendidikan perempuan direduksi menjadi alat mobilitas individual: gelar, karier, dan pengakuan di ruang publik. Emansipasi diukur dari sejauh mana perempuan mampu memasuki pasar kerja dan meniru trajektori keberhasilan laki-laki, sementara kerja pengasuhan dianggap urusan privat yang tidak layak masuk dalam perhitungan politik dan kebudayaan. Inilah wajah feminisme liberal yang memisahkan pembebasan perempuan dari persoalan regenerasi manusia itu sendiri.


Dalam kerangka tersebut, pengetahuan tentang pengasuhan, pangan, dan pendidikan dini justru dipinggirkan. Memasak, memahami gizi, atau mengelola ruang belajar anak diperlakukan sebagai simbol keterbelakangan, bukan sebagai kerja sadar yang menentukan kualitas kehidupan generasi berikutnya. Alih-alih menuntut pengakuan dan distribusi tanggung jawab pengasuhan secara adil, wacana ini kerap berhenti pada penolakan simbolik—tanpa menawarkan bagaimana kerja regenerasi itu akan dijalankan.


Kontradiksi pun tak terelakkan. Perempuan didorong untuk bekerja penuh atas nama kebebasan, sementara kerja pengasuhan tetap berjalan tanpa dukungan yang memadai. Beban menjadi berlipat: perempuan bekerja dua kali, anak-anak kehilangan kualitas pengasuhan, dan ketika dampaknya muncul, kesalahan dilempar kembali kepada individu ibu. Emansipasi semacam ini tidak membebaskan, melainkan hanya memindahkan tekanan dari satu ranah ke ranah lain.


Pada akhirnya, regenerasi manusia bukan soal memilih antara karier atau rumah tangga. Ia adalah soal bagaimana sebuah masyarakat memahami, menghargai, dan mendistribusikan kerja pengasuhan. Selama kerja ini diremehkan, disederhanakan, dan dibebankan secara timpang, kita akan terus memanen generasi yang rapuh—lalu heran mengapa masa depan tak pernah benar-benar berubah.


Bagaimanapun, perempuan dan anak-anak tetap menjadi kunci kebudayaan dan peradaban. Bukan sebagai slogan romantik, melainkan sebagai kenyataan sosial yang menuntut kesadaran, pengetahuan, dan keberanian untuk mengkritik ilusi kemajuan yang hanya berhenti di permukaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar