Membincangkan
revolusi, penulis teringat akan satu pengalaman ketika secara tidak
sengaja bertemu dengan sekelompok aktivis di salah satu kampung di kota Makassar. Waktu
itu, para aktivis tersebut berkunjung ke salah satu rumah warga, dan tanpa
basa-basi, dengan suara lantang, menjelaskan ikhwal sebuah permasalahan,
kemudian meminta kesediaan warga agar berpartisipasi untuk sebuah perlawanan. Terdengar
begitu dahsyat dan revolusioner.
Begitupun di beberapa tempat lain, dimana penulis sering kali mendengar sebuah khotbah revolusioner yang bagaikan menatap rembulan di malam hari, kemudian membayangkan bahwa esok akan terjadi sebuah peristiwa penting yang akan mengubah jalannya sejarah.
Tidak ada yang salah jika mendiskusikan dan menebarkan semangat revolusioner kepada orang-orang tertindas, itu benar, karena orang-orang tertindas memang harus melawan. Tapi pertanyaannya, apakah hari ini orang-orang tertindas telah siap untuk merubah keadaan?, ataukah kaum terdidik hanya bersikap seperti pemadam kebakaran?. Datang ketika ada masalah mendadak, jika tidak, bangun di sore hari pun tak mengapa.




