Membincangkan revolusi, penulis teringat akan satu pengalaman ketika secara tidak sengaja bertemu dengan sekelompok aktivis di salah satu kampung di kota Makassar. Waktu itu, para aktivis tersebut berkunjung ke salah satu rumah warga, dan tanpa basa-basi, dengan suara lantang, menjelaskan ikhwal sebuah permasalahan, kemudian meminta kesediaan warga agar berpartisipasi untuk sebuah perlawanan. Terdengar begitu dahsyat dan revolusioner.
    
Begitupun di beberapa tempat lain, dimana penulis sering kali mendengar sebuah khotbah revolusioner yang bagaikan menatap rembulan di malam hari, kemudian membayangkan bahwa esok akan terjadi sebuah peristiwa penting yang akan mengubah jalannya sejarah.

Tidak ada yang salah jika mendiskusikan dan menebarkan semangat revolusioner kepada orang-orang tertindas, itu benar, karena orang-orang tertindas memang harus melawan. Tapi pertanyaannya, apakah hari ini orang-orang tertindas telah siap untuk merubah keadaan?, ataukah kaum terdidik hanya bersikap seperti pemadam kebakaran?. Datang ketika ada masalah mendadak, jika tidak, bangun di sore hari pun tak mengapa.


Tulisan ini merupakan outline dari beberapa bacaan untuk pengajuan ide kajian tugas akhir (ditulis 3 tahun yang lalu)
Arkeologi kota yang menempatkan kota Makassar sebagai objek kajian, telah ramai dilakukan beberapa tahun terakhir. Sebutlah misalnya Syaharuddin Manysur, yang mencoba mengungkap aspek keruangan kota Makassar di era kolonial Belanda, serta penelitian yang dilakukan oleh Asmunandar yang mencoba menggali aspek-aspek penting dari bangunan peninggalan kolonial Belanda.
Asmunandar (2005) dalam tesisnya yang berjudul “Membangun Identitas Masyarakat Melalui Kota Kuna Makassar”, menjelaskan bahwa sebaran bangunan era kolonial Belanda yang masih bisa ditemui hingga saat ini, terdiri dari bangunan pemerintahan, pendidikan, perumahan, ibadah, militer, pendidikan, perdagangan, social/hiburan dan kesehatan.
Tulisan ini merupakan outline dari beberapa bacaan guna pengajuan ide penulisan tugas akhir untuk mengganti ide yang sebelumnya (ditulis 2 tahun yang lalu)
Dalam sejarah perjalanannya, disiplin ilmu arkeologi terus mengalami pembaharuan dengan merefleksi teori dan metode melalui berbagai jenis penelitian. Salah satu implikasi dari penelitian yang pernah dilakukan adalah, lahirnya berbagai definisi baru mengenai arkeologi. Hal ini merupakan upaya untuk terus mengokohkan posisi arkeologi sebagai disiplin ilmu yang mampu membaca titik balik sebuah peradaban. Schiffer, Rathje dan Deetz adalah beberapa tokoh yang dapat dikatakan memberikan sumbangsih besar.


Saya mengenalnya enam tahun yang lalu disebuah warung kopi di Kota Makassar. Saat itu, saya yang kebetulan sedang membrowsing tugas perkuliahan, mengamati para pengunjung di sekitar dan mendapati sekumpulan orang yang sebagian besar dari mereka adalah senior saya di kampus. Di antara mereka, ada sosok yang sama sekali tidak ku kenali. Waktu itu, dia hanya diam mengamati rekan-rekannya yang sedang berdiskusi. Di sela-sela pendiskusian, sekali-sekali rekan-rekannya memotong pendiskusian dan meminta pendapatnya. Namun orang itu hanya mengangguk-ngangguk tanpa sepatah kata. Selang beberapa minggu, di tempat yang sama, orang itu muncul lagi. Dan seorang teman memperkenalkan saya padanya. M.Nawir, itulah namanya.


     Mungkin tersirat rasa bangga bagi mereka yang menobatkan dirinya sebagai “anak kota” yang hidup di kota metropolitan seperti Makassar. Betapa tidak, Makassar hari ini telah dihiasi dengan gedung-gedung yang tinggi, pusat perbelanjaan mewah serta beberapa infrastruktur laiinnya yang memberikan ciri akan sebuah kota. Yah, mungkin itulah “Kota Dunia” yang selalu dibanggakan oleh para elite kota Makassar.




Tulisan ini terinspirasi dari obrolan dengan beberapa kawan mengenai konsumerisme. Menurut kawan-kawan saya itu, hasrat konsumtif masyarakat dibentuk oleh asupan iklan. Yah, ada benarnya. Karena iklan memang ada dimana-mana.

Beberapa waktu yang lalu, gerakan mahasiswa menjadi hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Sensasi yang dipertontonkan oleh mahasiswa di jalanan dalam menolak kenaikan harga BBM mencuri konsentrasi khalayak banyak. Ada yang memuji tapi ada juga yang mencaci. Dipuji karena masih ada juga orang-orang muda yang memiliki semangat juang ditengah kondisi kampus yang sedang mengalami degradasi intelektual. Disisi lain, dicaci karena dianggap hanya bisa mempertontonkan kekerasan.  



Ada yang bilang bahwa “pembangunan” adalah kunci utama untuk mewujudkan sebuah bangsa yang berdaulat. Cara pandang seperti ini umumnya dikenal sebagai cara pandang developmentalism. Cara pandang yang memusatkan perhatian untuk membangun sebanyak mungkin sumber-sumber penghasil “pundi-pundi emas”. Di Indonesia pada umumnya, corak seperti ini dapat dilihat, salah satunya melalui semakin maraknya aktivitas industri pertambangan.

Di kabupaten Maros dan Pangkep misalnya, jumlah tambang-baik tambang semen maupun marmer-pada kawasan karst mencapai puluhan. Selain tambang semen dan marmer, tercatat pula aktifitas pengerukan tanah di beberapa titik untuk menyokong proses reklamasi pantai di wilayah perkotaan. Biasanya, pembangunan tambang-tambang seperti itu selalu berdalih untuk memberdayakan sumberdaya manusia yang ada di sekitar daerah penambangan, alias menyerap tenaga kerja dan menekan angka pengangguran. Sebuah “niat baik” yang sasarannya selalu dipusatkan pada masyarakat kelas bawah.



Sekadar membincangkan politik di tengah kondisi masyarakat yang sangat ‘awam’ tentang politik, kita hanya akan menemukan persepsi tentang perilaku korup, lingkaran setan, tidak bermoral, politisi baik dan tidak baik. Terlebih untuk mendiskusikan tentang perubahan sistem dan struktur politik, maka bagi masyarakat ‘awam’ tidak ada jalan lain selain mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan berpartisipasi ke dalam pertarungan politik. 

Pandangan semacam itu yang kemudian melahirkan penilaian yang sangat moralis, dapat dikata masih sangat empirik. Pandangan itu merupakan refleksi atas pengalaman yang dicerap dari perilaku para politikus. Masyarakat yang masih sangat ‘awam’ tentang politik, belum mampu melampaui cara pandang empirik. Bahwa politik bukanlah persoalan moral, tetapi menyoal pada bagaimana membangun kekuatan, membangun kesepakatan bersama, untuk mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera. 



Berdasarkan hasil penelsuran sejarah kampung, ada tiga jenis bencana yang pernah terjadi di kampung Buloa RT 08, yaitu kebakaran, angin puting beliung, dan penggusuran. Angin puting beliung menghancurkan sekitar 57 rumah warga, kebakaran menghanguskan 4 rumah, dan penggusuran oleh pihak pengembang mengancam keberadaan kampung Buloa. Ketiga bencana tersebut membuat miris perasaan warga setempat, karena setelah bencana-bencana tersebut terjadi, warga selalu dihantui oleh perasaan takut akan kehilangan tempat tinggal akibat bencana. 

Oleh karena itu, menurut warga setempat ada beberapa langkah-langkah taktis dan strategis yang dapat ditempuh guna memperkecil resiko bencana yang bisa datang kapan saja.

1.       Angin puting beliung

Angin puting beliung adalah salah satu bencana yang paling membawa dampak besar menurut warga, sebab angin puting beliung pernah menghancurkan puluhan rumah warga. Ketika angin puting beliung terjadi, pemerintah hanya mampu memberikan bantuan pembenahan atap rumah, itupun hanya ada beberapa rumah yang mendapatkan bantuan. Sedangkan untuk pendidikan mengenai bagaimana cara menghadapi bencana seperti angin puting beliung tidak pernah dilakukan.

Karena hal tersebut, menurut warga setempat ada beberapa langkah yang dapat dilakukan guna mempersiapkan diri jika bencana angin puting beliung kembali terjadi. 

Langkah taktis untuk memperkecil resiko bencana yang diakibatkan oleh angin puting beliung dapat dilakukan dengan memasang bambu pada atap rumah yang disusun berdasarkan bentuk atap rumah.

Sedangkan langkah strategis yang dapat dilakukan adalah bekerjasama dengan pemerintah kota untuk aktif mengakses dan mensosialisasikan kepada warga setempat mengenai perubahan cuaca dan kemungkinan akan terjadinya angin puting beliung.


a.      Kebakaran

Mengenai kebakaran yang pernah terjadi di RT 08, diakibatkan oleh kelalaian pemilik rumah. Kompor minyak tanah milik Umar (korban kebakaran) lupa dimatikan ketika Umar sedang beraktivitas di luar rumahnya. Ketika api kompor membakar bagian dapur rumah umar, api ikut membesar dengan cepat dan melalap seluruh rumahnya. Lalu api juga menyebar ke rumah lain, salah satunya rumah Dg. Raba. Pada waktu itu, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh warga, selain mengangkat air kemudian menyiram rumah yang terbakar. 

Pemadam kebakaran tidak dapat masuk karena jalan lorong yang kecil. Sehingga api baru padam ketika empat rumah juga habis di lalap. 

Menurut warga setempat , ada beberapa langkah taktis dan strategis yang dapat dilakukan untuk mencegah dan memperkecil resiko kebakaran, diantaranya :

Ketika berkumpul sesama warga, tidak lupa untuk saling menanyakan apakah kompor telah dimatikan. Kemudian mengadakan lonceng yang bisa dibunyikan ketika kebakaran terjadi agar seluruh warga kampung bisa mengetahui dengan cepat lalu ikut membantu memadamkan api. 

Selain itu, bisa juga mengadakan semacam papan reklame/spanduk yang dipasang di dalam kampung, yang kira-kira bertuliskan “waspada kebakaran. Jangan lupa matikan kompor anda”. Hal ini agar warga selalu waspada jika melihat papan/spanduk tersebut. 

Untuk mengurangi resiko ketika kebakaran terjadi, perlu juga kiranya warga yang bekerjasama dengan pemerintah kota membuat semacam kapal pemadam kebakaran yang selalu bersiaga di dalam kampung. Karena Buloa yang terletak di pesisir, sangat memungkinkan membuat kapal semacam itu. Air tersedia di laut sehingga mudah dalam proses pemadaman. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pelatihan mengenai bagaimana cara menghadapi bencana. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa pemahaman warga Buloa sangat minim mengenai bencana. 

3.       Penggusuran

Penggusuran oleh pihak pengembang pada tahun 2011 membuat ketegangan di dalam kampung. Ketika ancaman penggusuran terjadi, warga sempat kebingungan mengenai apa yang harus diperbuat. Sehingga pada waktu itu ada beberapa kepala keluarga yang memilih pindah dari Buloa karena diberikan semacam ganti-rugi dari pihak pengembang. Barulah ketika KPRM, ARKOM bersama mahasiswa datang, warga merasa tertolong dan kembali bersemangat untuk mempertahankan kampungnya. 

Ketika ancaman penggusuran terjadi, warga bersama KPRM dan mahasiswa beberapa kali melakukan aksi demonstrasi guna menolak rencana penggusuran tersebut. Aksi-aksi itu dilakukan di kantor DPRD Makassar, kantor Gubernur dan di dalam kampung sendiri. Karena banyak warga yang menolak, pihak pengembang menggunakan jasa preman untuk mengintervensi warga. Pada waktu itu, warga sempat ketakutan sehingga banyak yang tidak berani keluar dari rumahnya. 

Karena lelah dengan intervensi dari preman, warga memilih untuk menantang para preman berduel. Hingga akhirnya para preman tidak menanggapi tantangan tersebut, dan tidak lagi menampakkan hidungnya di sekitaran kampung. Warga sangat berterima kasih dengan kedatangan KPRM dan mahasiswa, karena berkat mereka penggusuran bisa dibatalkan.

Namun warga merasa perlu juga melakukan persiapan karena bisa saja pengembang kembali mengancam warga. Oleh karena itu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengahadapi bencana seperti penggusuran.

Pertama, membuat semacam balai warga sebagai tempat akses informasi dan berdiskusi tentang penggusuran dengan sesama warga maupun pihak luar seperti mahasiswa dan LSM. 

Kedua, seluruh warga harus bersatu untuk memperjelas satatus kepemilikan tanah ke pemerintah kota agar kedepannya punya bukti dan kekuatan untuk melawan siapapun yang ingin menggusur kediaman warga, termasuk pihak pengembang. 

Ketiga, warga mesti menata rumah/kampungnya sebaik mungkin agar tidak kumuh. Karena kumuh adalah salah satu alasan yang selalu dikatakan oleh pemerintah untuk menggusur kampung-kampung yang ada di Makassar. 

Peserta :
1.       Pak Fajrin
2.       Ibu Satriani
3.       Dg. Raba
4.       Herman
5.       Rita
Fasilitator : Aman Wijaya