Tentulah para pekerja menganggap bahwa upah dari kerja merupakan hal yang mutlak dimilikinya seorang pekerja sebagai imbalan dari pencurahan tenaga kerjanya. Tentunya para pemodal merasa memiliki kewajiban untuk membayar upah para pekerjanya.  Namun darimana asalnya pekerja-upah dan para pemodal pengupah tersebut, dan bagaimana logikanya sehingga hal tersebut tampak sebagai sebuah hukum alam yang harus dialami umat manusia?

Sejarah singkat pekerja-upahan
Keberadaan pekerja-upahan tidak lepas dari sejarah berdarah di Eropa pada abad ke-XVI. Pertarungan memperebutkan tanah sebagai basis produksi akhirnya menggoreskan kemenangan pada tuan tanah (feodal) namun dengan cepat diambil alih oleh kelompok militer yang di biayai oleh kerajaan. Pertarungan antara kedua penguasa ini menjadi pusaran historis dalam memperebutkan sumberdaya utama (tanah). [1]Karena hal tersebut, satu satunya yang mengalami kerugian mendalam adalah para budak (baca: kaum pengolah) mereka kehilangan tanah dan juga kehilangan satu satunya jaminan diluar dari dirinya yaitu para feudal. [2]
Mereka yang tak berpunya dengan jumlahnya yang ribuan menghadapi pilihan antara mati kelaparan atau mengemis di kota, peristiwa urbanisasi ini membuat kota di penuhi dengan para gelandangan tak berpunya, usaha untuk menata serta memulangkan para gelandangan di kota mengalami kesulitan sebab di desa kondisi yang jauh lebih buruk telah menanti.[3]
Akhirnya Undang-Undang berdarah yang kemudian diberlakukan untuk para gelandangan menghadapi berbagai ironi yakni seluruh undang-undang tersebut senantiasa bebas tafsir, sesuai para pemesan undang-undang tersebut. Akhirnya pada aras atas produksi regulasi yang memihak bagi pemodal menjadi medan utama sementara di aras bawah pertarungan memperebutkan sumberdaya utama berupah tanah menjadi motif utama gerak social masyarakat. Sampai disini kita bisa mengerti bahwa satu satunya kelas yang absen dari keuntungan pertarungan ini adalah kaum gelandangan, ungkapan sudah terpinggir mereka tergusur tidak bisa di nafikkan lagi. Namun apakah argument bahwa para pemodal telah berbaik hati menampung para gelandangan dan membebaskannya dari ketergelandangannya  mesti absen dalam pertanyaan kita? Pertanyaan ini cukup penting sebab dari titik ini relasi social dari kapitalisme awal mendapatkan pupuknya yang subur. [4]
Legalisasi perampasan kerja
Dampak dari revolusi social melahirkan relasi social yang baru, yang sebelumnya antara feudal dan penggarap, bertransformasi menjadi pemodal (baca-kapitalis) dan pekerja. Jika sebelumnya feudal merupakan jaminan dari penggarap, maka revolusi social menjadikan penggarap sebagai pekerja yang merdeka sepenuhnya, tanpa hak-milik, tanpa jaminan, dan tanpa kejelasan hidup. 
Setelah proses pembusukan penggarap menjadi proletar yang tak berpunya, perampasan tanah dan alat kerja menjadi capital, alat-alat produksi yang tadinya terpisah dikonsentrasikan pada satu titik, dan adanya sosialisasi kerja, maka berdirilah cara produksi kapitalis di atas kakinya sendiri. Corak ini kemudian menghasilkan hukum hak-milik perseorangan individual, yang merupakan negasi dari corak produksi ber-skala kecil, yang terpisah, dimana pekerja adalah pemilik merdeka atas kondisi-kondisi kerjanya. [5]

Hingga titik ini, sampailah pekerja pada kondisi yang terburuk, dimana dia harus menggantungkan hidup sepenuhnya kepada para pemodal. Karenanya, pekerja tak ubahnya seperti kuda, yang mesti mendapat sebanyak yang memungkinnya untuk bekerja. Tidak ada pertimbangan sebagai makhluk manusia ketika ia tidak bekerja. Tapi menyerahkan pertimbangan itu pada hukum kriminal, pada para doktor, pada agama, pada table-tabel statistik, pada politik, dan pada ketololan pejabat resmi. Ketergantungan ini merupakan hal mutlak dari “kemerdekaan” pekerja atas tuan-tuan tanahnya. (Marx, hal 26).
Pengkonsentrasian alat-alat produksi dalam satu titik, hak-milik perseorangan, juga menghadirkan situasi dimana kapitalis harus menghancurkan kapitalis-kapitalis lainnya untuk pengkonsentrasian alat-alat produksi secara massal dan penguasaan pasar. Sehingga selain bekerja, kondisi terburuk yang harus dialami para pekerja adalah persaingan untuk mendapatkan pekerjaan itu sendiri. Hingga pada kondisi dimana kerja itu harus direbut dengan cara-cara kekerasan, dan menyisahkan sebagian kaum pekerja untuk menjadi gembel, bahkan mati kelaparan. Maka mujurlah pekerja yang berhasil menemukan pembeli kerjanya..
Sehingga kebaikan kapitalis untuk menyelamatkan ketergelandangan para pekerja harus dibayar oleh para pekerja dengan menghasilkan laba sebesar-besarnya bagi kaum pemodal. Karena menarik para penggarap ke dalam pabrik-pabrik merupakan keharusan bagi para pemodal, sebab  pekerja adalah syarat utama untuk menghasilkan capital. 
Dengan jalan peng-upah-an, maka semakin tampaklah keharmonisan relasi social yang baru ini. Sebelumnya, penggarap bertahan hidup dari tanah garapannya, namun karena para penggarap bertransformasi menjadi pekerja di pabrik-pabrik para kapitalis, maka diberlakukanlah system upah untuk mempertahankan keberadaan pekerja, yang merupakan proses pemisahan modal, sewa tanah dan kerja
Upah, serendah-rendahnya diperuntukkan agar dapat menghasilkan capital. Tanpa upah, tentulah para kapitalis tidak dapat menghasilkan laba sebanyak-banyaknya melalui tangan-tangan buruh yang dipekerjakan. Karena upah adalah syarat untuk mereformasi system capital agar tidak tampak sebagai sebuah penindasan.  
Dalam “naskah-naskah ekonomi dan filsafat 1844”, Karl Marx menjelaskan bahwa seyogyanya, upah serendah-rendahnya adalah hal mutlak yang diperuntukkan bagi pekerja selama masa kerjanya, selain diperuntukkan bagi pekerja secara individu, upah juga diperuntukkan untuk mendukung keluarga pekerja, agar bangsa pekerja tidak berakhir keberadaannya.
Sampai di sini, marilah kita menarik kesimpulan bahwasanya upah adalah syarat keberlangsungan hidup bangsa pekerja guna terus mengeksploitasi pekerja dalam menghasilkan laba bagi kapitalis. [6]
Namun tidak sebaik wajahnya, upah tidaklah lebih dari sekedar vitamin untuk mensuplai organ-organ tubuh agar tetap berjalan normal dalam memproduksi capital dan terus memenuhi hasrat-hasrat dan keserakahan kaum kapitalis. Pertanyannya kemudian, bagaimana upah di atur sedemikian rupa?
Di dalam perputaran system capital, ada beberapa kondisi yang menentukan naik turunnya pasar-upah, diantaranya :
1.Karena upah selalu mengikuti permintaan stok pekerja serta pembagian kerja kuantitatif dalam sebuah industry. Jika dalam sebuah masyarakat yang kelebihan stok pekerja, maka pasar-upah akan turun. Karena walaupun pasar-upah rendah, para pekerja tetap harus bersaing sesama pekerja untuk mencari pembeli kerja.
2.   Selanjutnya, pengerucutan kerja menjadi sebuah kerja monoton dan membosankan menyebabkan turunnya upah.
Dalam kasus yang terakhir diatas, sebutlah misalnya dalam sebuah industry pengalengan ikan, 20 tahun sebelumnya, upah mencapai rata-rata. Karena satu kaleng ikan hanya dikerjakan satu orang. Namun di tahun-tahun sekarang kerja dilebur menjadi beberapa bagian, antara lain kerja memotong ikan, membuat kaleng dan memasukkan ikan ke dalam kaleng. Sehingga upah yang sebelumnya mencapai rata-rata, turun mengikuti kerja kuantitatif dalam satu kaleng ikan. 
Anggaplah misalnya suatu masyarakat mengalami perkembangan kekayaan, ketika modal dan pendapatan sebuah negeri bertumbuh. Hal ini memang sebuah konsekuensi logis dari banyaknya hasil akumulasi kerja. Namun sayangnya lagi-lagi bangsa pekerja tetap dalam keadaan dirugikan. Karena para pekerja harus berhadapan dengan hasil kerjanya sendiri. Sebutlah misalnya kita yang bekerja dalam sebuah perusahaan sabun, tapi untuk memiliki satu buah sabun, kita harus menyisihkan sebagian upah untuk membeli sabun yang notabene adalah hasil cipta kita sendiri.
Dalam kasus diatas, meskipun secara terpaksa upah harus dinaikkan, akan selalu sejalan dengan besarnya hasil produksi, yang berarti semakin banyak waktu kerja yang harus dicurahkan. Dengan naiknya upah, maka kebutuhan hidup pekerja akan ikut bertambah.
Hingga pada kondisi apapun, pekerja tetaplah yang paling dirugikan. Karena walaupun dalam sebuah masyarakat mencapai kemakmuran, pekerja tetap hanya akan mendapatkan bagian terkecil dari apa yang dibutuhkannya. Namun ketika orang-orang kaya mengalami kebangkrutan, maka pekerja akan kehilangan hidupnya. 


[1] Sejak terampasnya kaum feodal dan para produsen dari tanah atau alat produksinya melalui perang sipil antara kaum feudal dan kerajaan, dan antara sipil dan feudal, lenyap juga-lah ikatan antara kaum feudal dan para petani yang kemudian menyebabkan mereka menjadi kaum yang tak-berpunya.
[2] Mengapa kaum pemodal tidak terlibat perang sipil dalam memperebutkan tanah? Karena kaum pemodal adalah kaum minoritas di dalam masyarakat, yang tidak mempunyai tanah namun memiliki modal seperti uang dan mesin-mesin produksi. Belakangan, kaum pemodal berhasil menikung setiap revolusi, kemudian menggunakan kekuasaan negara untuk melegitimasi kepentingan-kepentingannya.   
[3] Untuk pembahasan mengenai sejarah keterampasan tanah, baca Das Kapital, Karl Marx, Perampasan Tanah Penduduk Desa : 800. Yang membahas tentang bagaimana tanah milik gereja, negara, dan feudal dirampas dengan cara-cara terorisme kejam yang kemudian ditransformasi menjadi milik perseorangan modern. 
[4] Sedangkan untuk pembahasan mengenai undang-undang yang menjadi legitimasi para pemodal dalam mempertahankan hak-milik dapat dilihat dalam Das Kapital, Karl Marx, Perundang-undangan berdarah terhadap yang terampas sejak akhir abad ke-XV, undang-undang penekanan upah : 822.
[5] Penjelasan singkat  mengenai corak produksi pra-kapitalisme dapat di lihat dalam Das Kpital, Karl Marx, Kececenderungan historikal akumulasi primitive : 854.  
[6] Untuk penjelasan yang detil mengenai upah-upah kerja dapat di lihat dalam, Karl Marx, naskah-naskah ekonomi dan filasafat 1844 : 19.








Kadang saya sendiri kebingungan jika mendapati sebuah forum diskusi terkait bagaimana melawan kapitalisme. Tidak sedikit ruang-ruang diskusi yang saya temui di kota Makassar, memberikan euphoria tersendiri apabila proses pendiskusian menemukan semacam gagasan tentang bagaimana melawan kapitalisme. Kebanyakan forum yang saya dapati selalu melahirkan ide-ide yang sifatnya heroik. ‘Lawan’, ‘bakar’, ‘boikot’, dan berbagai aksi-aksi heroik lainnya. Seolah-olah saat pendiskusian berakhir, esok hari akan berkumpul barisan rakyat jelita yang akan menumbangkan kapitalisme.

***



Setahun yang lalu, perhatian para  penggiat gerakan sosial di Sulawesi-Selatan dicuri oleh konflik agraria di salah satu kabupaten, tepatnya di Kabupaten Takalar. Waktu itu, petani bersama mahasiswa dan aktivis LSM, menghimpun kekuatan melawan PT. Perkebunan Nusantara (PT. PN) yang hendak merebut lahan pertanian warga. Aksi PT. PN yang di back-up oleh aparat kepolisian dan militer, membuat gelora perlawanan para petani menggema hingga ke sudut kampus. Karena keadaan yang rumit, banyak mahasiswa yang kemudian memutuskan untuk menjadi relawan guna menyokong gerakan petani Polongbangkeng tersebut. Sayangnya saat itu saya sedang dikejar oleh deadline tugas akhir-skripshit-perkuliahan, hingga tidak sempat melihat langsung bagaimana para petani Polongbangkeng melawan.

Tidak terasa usia ini telah berjalan selama 23 tahun. Yah, sebuah usia yang ku fikir sudah cukup matang untuk mampu berfikir dewasa di tengah kehidupan yang ke-kanak kanakan namun kejam ini.

Aku teringat lima tahun yang lalu, dimana pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah tempat yang sebenarnya sangat asing bagiku, dan bertemu dengan orang-orang yang juga berwajah asing. 

Kalau tidak salah ingat, aku bertemu 29 manusia-manusia kecil yang ingin menjadi besar dengan sejuta harapan yang dibawa dari tempat pertapaannya masing-masing. Sebuah harapan yang menurutku tidak pernah mereka pahami apa tujuannya, apa kaitannya dengan hidup yang fanah ini. Begitupun dengan harapan yang kubawa serta bersama tubuh rapuh ku.

Seiring waktu berlalu, kamipun mencoba untuk saling memahami satu sama lain. Ternyata diantara 29 manusia-manusia itu, masing-masing mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang kadang bersikap seperti buaya, benalu, putri malu, serta beberapa yang tidak bisa ku ungkapkan.

Hingga pada suatu hari, ketika kami mulai merasa ada kedekatan dari hubungan pertemanan yang telah dibangun, satu per-satu mulai mengoceh dan bertingkah yang aneh.

Ada yang maunya ngumpul bareng tiap hari ditemani se-ember abang ballo’.

Ada yang maunya jalan ke mana-mana menikmati suasana kota (yah, maklumlah orang-orang pinggiran).

Ada yang selalu mengajak untuk mengadu nasib di meja perjudian.

Dan ada juga yang lebih memilih menghabiskan waktunya untuk berfantasi dengan para hawa-hawa yang menjadi koleksinya

Tapi ada juga yang lebih memilih berdiam diri di istananya.

Yah,tidak terasa kamipun terlena dengan hubungan pertemanan yang kami bangun. Dimana setiap harinya kami merasa puas dengan apa yang kami lakukan. Meskipun dalam sebuah ruang yang hampa bernama kelas kuliah, kami sering di olok oleh makhluk yang bernama dosen.

  Hingga pada suatu saat salah satu dari kami bertanya.

“kira-kira siapa yah diantara kita yang akan kabur lebih dulu dengan nama yang bertambah panjang?”

 Sungguh pertanyaan bodoh, namun memiliki arti yang sangat dalam.

                ………………..
Bermula dari pertanyaan di atas, tiba-tiba terdengar kabar bahwa ada beberapa di antara kami yang akan kabur lebih dulu dengan alasan yang beragam. Ada yang ingin mencari kehidupan di alam yang lain, ada yang karena tidak sanggup bertahan di tengah hirarki senioritas para pendahulu kami, dan ada pula yang tidak mengerti mengapa harus kabur. 

Apa boleh buat, beberapa yang bertahan tetap berusaha untuk menerima keputusan teman-teman  kami itu. Meskipun tidak sadar ada banyak janji-janji yang ter-ingkari, termasuk janji untuk kabur dengan nama yang bertambah panjang. Karena beberapa yang telah kabur lebih dulu namanya tidak kunjung memanjang ke belakang.  

 Walaupun beberapa telah menghilang entah ke mana, kami yang tersisa tetap menjalankan rutinitas keseharian yang sebenarnya sudah mulai membosankan. 

                ……………….

 Beberapa tahun berlalu akhirnya masing-masing dari kami benar-benar telah sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Cerita-cerita mengenai awal pertemanan kami akhirnya hanya menjadi sebuah kisah manis yang menjadi obrolan ketika suatu waktu kami menyempatkan untuk bertemu.

Tiada lagi se-ember abang ballo’,tiada lagi meja perjudian, tiada lagi nangkring di tempat-tempat elite, dan tiada lagi bergosip ria. Yang ada hanyalah cerita angin lalu.

Aku sempat berfikir bahwa para manusia-manusia kecil itu mungkin tidak lagi menikmati apa yang kita bangun bersama-sama, dan betapa bodohnya mereka yang berhenti di tengah jalan.

Tapi, sepertinya kehidupan ini berkata lain.

Aku mencoba untuk berfikir lebih dewasa, bahwa mungkin para manusia-manusia kecil itu telah menemukan jalannya masing-masing untuk menjadi besar. Bahwa mungkin mereka telah memahami apa sesungguhnya arti dibalik harapan yang ada di benaknya. Bahwa mungkin mereka telah melalui proses kehidupan yang memberikan banyak pelajaran berarti. 

Akupun harus mendoakan mereka agar apa yang dicita-citakan mampu dicapai, dengan segala konsekuensinya. Semoga mereka mampu bertahan ditengah kehidupan yang ke kanak-kanakan namun kejam ini. Betapapun, mereka adalah orang-orang yang akan tetap ada di benak ini, dan akan selalu ada selamanya. Karena dari merekalah aku banyak belajar bagaimana semestinya menjadi sosok manusia.    
               
Hahahahahahahaaaaa….untuk kalian yang selalu tersenyum.

Kala pagi menerangi kelurahan Tolo, ditengah udara yang cukup dingin, tidak menyurutkan semangat para pekerja untuk berangkat ke tempat pengaduan nasibnya masing-masing. Di sisi lain, sebagian orang juga sedang berbondong-bondong menuju ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.  Karena waktu itu telah memasuki hari Sabtu, yang memang merupakan jadwal pasar Tolo, maka masyarakat memanfaatkan hari itu untuk berbelanja.

          Tepat pukul 07.30 pagi, akupun menyempatkan diri berkunjung ke pasar tersebut untuk melihat tempat penjualan Kuda yang sering diceritakan oleh teman-teman saya. Dalam perjalanan ke pasar, tampak beberapa laki-laki paruh baya bersama anaknya menarik kuda-kudanya yang akan di bawa ke pasar untuk di jual. Semakin menambah rasa penasaran saya seperti apa tempat perdagangan kuda tersebut.

        Setelah tiba di pasar dan memasuki lokasi tempat perdagangan kuda, langsung tampak hamparan lautan kuda yang disertai dengan suara rintihannya, serta orang-orang yang sedang sibuk menawar harga. Ditempat tersebut terdapat bermacam-macam warna kuda yang siap di jual. Yah, sangat wajar jika pendatang seperti saya langsung mengidentikkan Jeneponto dengan kuda.
   
         Namun jika melihat kuda, aku langsung teringat dengan perkataan salah seorang teman saya. 

         “Bagusnya logo Jeneponto di ganti saja dengan gambar Burung Puyuh”.

         Kalau mengingat perkataan tersebut aku serasa ingin tertawa terbahak-bahak. Apa pula maksud dari perkataannya itu. Jika ingin mengganti logo Jeneponto dengan gambar Burung Puyuh, maka bersiap jugalah kau dikutuk oleh nenek moyang pendiri daerah ini menjadi seekor Burung Puyuh. Ucapku dalam hati sambil terus menatap ratusan ekor Kuda yang ada di depan mataku.

        Lama aku menatap ratusan ekor kuda yang ada di tempat tersebut sambil mencoba mencerna maksud dari perkataan teman saya itu. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya analogi antara kuda dan keadaan Jeneponto saat ini. 

          Jika menganalogikan Kuda dengan kondisi Jeneponto saat ini, sangatlah tidak pas. Kuda yang dalam beberapa mitologi, adalah  hewan perkasa dan merupakan tunggangan dalam medan peperangan. Karena kuda adalah salah satu hewan dengan kemampuan berlari yang cukup hebat dan memiliki kondisi fisik yang memungkinkan untuk mendampingi sang petarung dalam medan pertempuran.

         Nah jika Jeneponto diidentikkan dengan kuda, semestinya laju pembangunan untuk menuju kesejahteraan harus secepat dengan lari seekor Kuda. Namun sebaliknya, Jeneponto malah menjadi daerah dengan pembangunan yang sangat lambat bahkan menjadi daerah yang paling tertinggal di Sulawesi Selatan. Apalagi jika dibandingkan dengan daerah tetangganya, Bantaeng, maka sama saja dengan membandingkan antara bumi dan langit.   

      Selanjutnya, karena diidentikkan dengan kuda yang perkasa, maka seharusnya Jeneponto  memiliki pemimpin yang perkasa dalam dalam menjalankan amanah masyarakat Jeneponto. Tidak memandang susah maupun senang, terus bekerja untuk kepentingan rakyatnya. Bukannya menjadi pemeras dan penindas untuk rakyatnya. Seperti kuda yang terus bekerja untuk sang joki atau petarung dalam medan pertempuran. yah, itulah Kuda dan Jeneponto yang terlintas di fikiranku.

         Setelah sibuk dengan lamunanku, aku mencoba untuk berbincang-bincang dengan salah seorang pedagang kuda di tempat itu. 

        Akupun menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang sedari tadi berdiri memegangi kudanya, dengan raut wajah yang tampak murung. Yah, mungkin karena Kudanya yang belum juga laku, sehingga membuatnya tampak murung. 

         “Kuda bapak ini harganya berapa?”, tanyaku.

        “Kalau ini harganya enam juta, karena saya memodalinya dengan harga lima juta lima ratus. Jadi lumayanlah untung sedikit”, ucap si pedagang kuda.
 
         “Oh, jadi ceritanya bapak beli dan jual lagi, begitu?”, tanyaku lagi.

         “iya”.

          “Trus bapak belinya di mana?”.

          “Belinya di salah satu kenalan, dan dia juga mendatangkan dari daerah lain”.

         Kaget juga aku mendengan ucapan bapak itu. Aku fikir kuda tersebut dia pelihara dan kemudian di jual. Tapi ternyata kuda miliknya dibeli dari seorang makelar kuda, dan kuda itu sendiri didatangkan dari daerah lain. Menurut yang dia dengar,alasan kuda didatangkan dari daerah lain karena kebutuhan masyarakat akan kuda semakin meningkat tetapi stok kuda di Jeneponto saat ini tidak banyak. oleh karena itu, pemerintah mendatangkan kuda dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Setelah itu ditadah oleh para makelar dan dijual lagi ke para pedagang kuda di pasaran. Walaupun ada juga yang langsung mengambil di pelabuhan, tempat kuda diangkut dari daerah lain.

         “Kok daerah yang diidentikkan dengan kuda malah mengimpor kuda, bukannya mengekspor. Mestinya kan bisa di ternakkan sendiri. ”, ucapku dalam hati.

           “Kenapa tidak beternak saja pak, setidaknya tidak butuh modal banyak”, tanyaku ke pedagang kuda yang tadi.

           “Ada juga yang diternakkan, tapi cuma beberapa. Selebihnya itu saya beli. Karena kalau harus beternak waktunya lama nak, sedangkan pemerintah mendatangkan kuda dari daerah lain. Jadi kami yang mengandalkan penjualan kuda, lebih memilih untuk memodali”.

            “Kira-kira banyak atau tidak yang juga memodali kuda?”, tanyaku lagi.

             “Yah sebagian besar pedagang di sini memodali”, jawab si bapak.

           Mendengar ucapan si penjual kuda itu, fikiran ku mengenai analogi antara kuda dan Jeneponto berlanjut. Sepertinya ide teman saya untuk mengganti logo kuda dengan burung puyuh ada benarnya juga. Mengindentikkan Jeneponto dengan kuda tidak relefan lagi saat ini. Pembangunan tidak sekencang lari kuda, karakter sang pemimpin tidak seperkasa kuda, dan yang lebih parah Jeneponto menjadi pengimpor kuda. Bukan exporter kuda. 

Setelah itu aku pun beranjak pulang sambil membawa fikiran ku akan kuda dan Jeneponto. Jika teman saya gagal menjalankan misinya untuk mengganti logo kuda menjadi Burung Puyuh, maka mungkin suatu saat akan ada yang berhasil mengganti dengan gambar kuda lumping.


Buah tangan dari pasar kuda di Jeneponto, mau beli kuda tapi tidak ada uang. Jadi yah, cuma membawa pulang sebuah tulisan singkat.hahahahahahaaa