Alkisah, hiduplah sekelompok pekerja yang bernama ular, cacing dan kumbang yang bekerja untuk membantu manusia yang berprofesi sebagai petani. Masing-masing diantara mereka mempunyai peran dan tugas yang berbeda-beda. Walaupun hampir semua waktunya diluangkan untuk bekerja, mereka tidak pernah diberi imbalan sedikitpun oleh para petani dari apa yang mereka kerjakan. Hal itu karena mereka bekerja tanpa sepengetahuan para petani.

          Disuatu sore, para pekerja itu berkumpul di sebuah pematang sawah untuk mendiskusikan hasil yang telah mereka capai selama bekerja.

      “Hari ini aku sangat lelah, namun aku sangat menikmati apa yang aku kerjakan. Bagaimana dengan kalian?”, Tanya ular kepada ke tiga rekan kerjanya. 

        “Wah, hari ini para petani terlihat sangat senang. Karena berkat saya tanah garapan para petani bisa subur dan menghasilkan banyak zat harah”. Ungkap si cacing.

           Karena mendengar si cacing yang terlalu membanggakan diri, si ular kembali bertanya.

           “Memangnya keahlian kamu apa sih?”. 

   “Wah jangan salah kamu ular,  walaupun tubuhku kecil tapi aku punya banyak manfaat loh. Salah satu manfaat terbesarku bagi lingkungan dan pertanian adalah menyuburkan tanah dengan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, meningkatkan penyimpanan air, dan menyediakan bahan-bahan organik di tanah. Lubang-lubang (jalan) yang aku buat merupakan salah satu cara untuk mengemburkan tanah. Tujuan membuat lubang dengan mendesak atau memakan butiran-butiran kecil tanah, sehingga memperbaiki aerasi dan drainase dalam tanah. Dengan adanya lubang-lubang tersebut, tanah menjadi lebih gembur”. 

     Karena merasa di ejek oleh ular, si  cacing tidak mau berhenti bercerita. Dan menjadi semakin pamer dengan keahliannya.

    “Tidak hanya itu ular. Selain membuat tanah menjadi lebih gembur, lubang jalan yang aku buat bermanfaat juga untuk konservasi air tanah. Aku mampu menggali tanah hingga kedalaman 1 meter. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam penyerapan air. Penyerapan air dalam jumlah banyak akan memperkecil banjir dan erosi yang terjadi ketika hujan besar melanda. Aku mengkonsumsi tanah dan bahan-bahan organik lainnya sehingga menghasilkan produk buangan (kotoran). Kotoran cacing bermanfaat bagi kesuburan tanah karena mengandung unsur hara N, P, dan K, sehingga memperkaya kandungan mineral dalam tanah. Kotoran cacing tersebut berupa bentuk nutrisi yang mudah dimanfaatkan tanaman. Namun, produksi alami kotoran cacing tanah bergantung pada spesies, musim, dan kondisi populasi yang sehat. Selain itu, cacing mampu membantu mengomposkan sampah organik rumah tangga”.

     Si ular langsung melongoh mendengar penjelasan si cacing.

     “Ternyata si  cacing hebat juga nih”. Ucap ular di dalam hatinya.

    “Hebat kan?. Kalau kamu sendiri ular, manusia kan takut sama kamu. Bagaimana kamu bisa bilang kalau kamu membantu para petani?”. Tanya cacing kepada si ular.

      Si ular pun tidak mau kalah dengan si cacing, dan menjelaskan tentang kehebatannya.

      “Kenalin nih, aku si ular yang perkasa. Aku ini komandan satuan pengamanan sawah”.

    “Hahahahahahahahahahaaa….apa pula itu satuan pengamanan sawah?”. Karena terdengar aneh, si cacing tertawa terbahak-bahak.

    “Begini ceritanya cing, keseharian saya adalah mengawasi tikus dan hewan lainnya yang sering merugikan dan membuat resah petani, soalnya tikus biasanya akan mengigit batang dan memakan bulir-bulir padi. Dan pada tanaman jagung biasanya langsung di makan buah jagungnya. Jadi biasanya kalau tikus datang dan berniat jahat, aku sikat saja. Begitu……..”

      Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika si ular menceritakan keperkasaannya. Si cacing dan kumbang langsung ketakutan mendengar cerita ular.

     “Jangan-jangan nanti aku di sikat juga nih kalau banyak bacot”. Ucap si cacing di dalam hatinya. 

    Karena melihat wajah si cacing dan kumbang yang agak pucat, si ular mencoba menghilangkan kepanikan kedua sahabatnya.

   “Wah, kalian berdua tidak usah takut kawan. Kita kan sesama pekerja di sawah, jadi tidak mungkinlah saya mau menghajar kalian”.

     “Ini nih si kumbang dari tadi cuma menjadi pendengar setia. Cerita dong apa yang telah kamu kerjakan”. Tegur ular kepada si kumbang.

     “Hahahahahaa…iya deh, aku ceritakan. Aku mudah dikenal karena penampilan yang bundar kecil dan punggung yang berwarna merah. Aku adalah karnivora yang memakan hewan-hewan kecil penghisap tanaman semisal kutu daun (afid). Aku makan dengan cara menghisap cairan tubuh mangsaku. Di kepalaku terdapat sepasang rahang bawah (mandibula) untuk membantu memegang mangsa saat makan. Lalu menusuk tubuh mangsaku dengan tabung khusus di mulut, hal itu untuk menyuntikkan enzim pencerna ke tubuh mangsa, lalu menghisap jaringan tubuhnya yang sudah berbentuk cairan. Aku mampu menghabiskan 1.000 ekor kutu daun yang dapat merusak tanaman loh”.

   “Waaaahhhh…kamu hebat yah kumbang. Aku salut sama kamu”. Ular coba memuji sahabatnya yang satu ini.

      “Tidak usah melebih-lebihkan ular, itu biasa saja kok”. Sahut kumbang yang coba merendah.

    Karena keasikan berdiskusi, tidak terasa matahari mulai terbenam. Dan ketiganya sepakat untuk pulang beristirahat. 

    “Mungkin ada baiknya kita pulang beristirahat, soalnya besok kita harus kembali bekerja, bagaimana?”. Ajak ular kepada tiga sahabatnya.

   “Iya deh, yuk. Sampai ketemu besok yah”. Sahut si cacing sambil berjalan meninggalkan pematang sawah.

………………………………………………..


    Beberapa hari kemudian, ular sedang tidak enak badan. Selain itu, dia juga mendengar kabar bahwa si cacing sedang sakit. Ularpun berniat untuk menjenguk sahabatnya yang satu itu, dan segera bergegas menuju kediaman cacing.

Beberapa menit berjalan, ularpun tiba di kediaman si cacing.  

“Assalamualaikum, eh cacing katanya kamu sakit yah??”

“Walaikumsalam, iya nih bro saya sedang sakit. Ini gara-gara petani menggunakan pupuk kimia ke sawahnya. Padahal saya sangat sensitive dengan bahan kimia. Saya tidak tahu mengapa para petani tiba-tiba menggunakan bahan-bahan yang beracun untuk tanamannya”

“Ketika petani menyemprotkan pupuk dan pestisida, aku langsung menggelepar-gelepar ke pinggir sawah untuk menyelamatkan diri. Untung aku bisa selamat, walaupun ada beberapa cacing lainnya yang belum tiba di pinggir sudah mati.  Cacinglah yang paling awal lenyap dari dalam tanah dan selanjutnya diikuti oleh hilangnya kehidupan mikroba lain yang berfungsi menyuburkan tanah. Oleh karena itu aku tidak bisa lagi bekerja menyuburkan tanah”. Cerita si cacing dengan wajah yang memelas.

“Wah, jangan-jangan gara-gara pupuk dan pestisida itu hari ini aku tidak enak badan. Soalnya kemarin aku melihat petani menyemprotkan sesuatu ke sawahnya”. Sahut si ular.

“Pasti karena itu ular. Aku bingung, siapa sih yang mengajari para petani untuk menggunakan bahan beracun itu”. Ucap si cacing. 

Tidak lama kemudian, kumbang juga datang dengan wajah memelas.

“Teman-teman, kalian dengar berita hari ini tidak?”. Tanya si kumbang kepada dua sahabatnya.
“Tidak kumbang, memangnya ada apa sih?”. Sahut si ular.

“Pokoknya hari ini, Minggu 20 Desember 1980 kita telah kehilangan pekerjaan akibat revolusi hijau manusia. Peran kita untuk membantu para petani menyuburkan tanah dan tanamannya telah tergantikan dengan pupuk dan pestisida. Katanya pupuk itu untuk menyuburkan tanah, sedangkan pestisida untuk membasmi hama. Padahal kan kita bertiga telah melakukan peran-peran itu”. Ucap si kumbang.

“Begitu yah, pantas saja. Para petani tidak tahu bahwa penggunaan bahan kimia itu dapat mengganggu kesehatan. Dampak yang lebih nyata adalah terjadinya polusi tanah pertanian yang dapat menyebabkan penurunan kualitas lahan dan peranan mikroba berguna dalam tanah. Akibatnya antara lain terjadi akumulasi garam-garam dan logam berat seperti Cu, Al, dan Cd dalam tanah, dan meningkatkan kemasaman tanah”. Cacing coba menjelaskan.

“Sepertinya sebentar lagi kita akan dilupakan oleh para petani akibat bahan-bahan beracun itu. Dan dapat diramalkan bahwa 50-100 tahun ke depan para petani tidak bisa lagi menggarap lahannya. Karena penurunan kualitas tanah, dimana tanah akan mengeras akibat penumpukan bahan-bahan kimia”. Ucap si Kumbang.

“Iya yah, padahal jika hanya ingin menyuburkan tanah, kan bisa menggunakan bahan-bahan alami. Seperti kotoran ternak dan sisa-sisa tanaman. Semua itu kan berfungsi meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, meningkatkan produktivitas tanaman, merangsang pertumbuhan batang dan daun, serta menggemburkan dan menyuburkan tanah. Lagipula biayanya tidak mahal jika dibandingkan dengan pupuk kimia. Dengan harga pupuk kimia yang mahal, itukan bisa membebani para petani”.  Keluh si Cacing.

Sambil merenungi nasib, ketiga pekerja ini memutuskan untuk berhenti bekerja di sawah dan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Dengan penuh harap, mereka ingin agar suatu saat para petani mengerti akan dampak dari penggunaan bahan-bahan kimia terhadap tanah dan tanaman. Dan tidak menyepelehkan peran organisme lokal di alam ini yang dapat membantu para petani.


.






Bayangkanlah anda seorang petualang dan ingin mencari tempat dan hal-hal unik di Negara ini. Dan anggaplah anda memilih sebuah apartemen bernama Jeneponto untuk menjadi tempat pilihan. Jeneponto ini adalah sebuah apartemen yang terbagi menjadi tiga lantai yaitu, lantai atas, pertengahan dan lantai dasar.
            Berbeda dengan apartemen yang sering anda saksikan dalam iklan. Dimana setiap lantainya memiliki pemandangan yang sama, yaitu fasilitas yang nyaman hampir disemua kamar dengan harga yang tinggi, tentunya. Namun apartemen yang bernama Jeneponto ini memiliki pemandangan yang berbeda disetiap lantainya dan dihuni pula dengan manusia-manusia yang “berbeda”. Penasaran?
            Oleh karena itu, terlebih dahulu kita harus mencari pesawat dan menuju lantai atas. Mungkin anda akan bertanya, mengapa harus lantai atas terlebih dahulu? Sebab jalan setapak menuju lantai dasar penuh dengan jebakan, sehingga sangat berbahaya. Jadi lebih baik kita tidak usah mengambil jalan yang beresiko tinggi.
            Kemudian anggap saja anda menemukan pesawat dengan harga yang tinggi. Tapi apa boleh buat, sebab pesawat yang disediakan semuanya dengan tarif yang sama. Sehingga anda tidak akan punya pilihan lain. Setelah mendarat di lantai atas, turunlah dari pesawat, dan anda telah tiba di…………..
Lantai Atas Jeneponto
            Setelah menginjakkan kaki di lantai atas, mungkin anda akan merasa heran dengan para penghuninya. Sebab 50% penghuninya memiliki wajah yang sama, yaitu $. Dan masing-masing dari orang yang berwajah  “$” tersebut, menggenggam sebuah pisau pemotong daging. Tapi sudahlah, lebih baik kita berjalan-jalan melihat pemandangan di lantai ini.
            Masuklah diruangan sebelah kiri anda, ruangan itu adalah milik pimpinan di apartemen ini. Sudah masuk? Anggap saja sudah. Lihat orang berperut besar duduk di atas kursi dan dikelilingi segerombolan orang?. Yah, dia adalah pimpinan di apartemen ini. Orang itu tidak pernah beranjak dari tempatnya, sebab tidak mampu lagi berjalan dengan beban perut yang besar. Sehingga hanya senang memberikan perintah dan tidak pernah berkunjung ke lantai tengah dan dasar. Selain itu, dia juga senang menghitung-hitung berapa banyak anggaran untuk bantuan yang masuk ke apartemen ini.
            Lebih anehnya lagi, biasanya setelah menghitung, dia memerintahkan orang-orang berwajah “$” penghuni lantai ini untuk memotong-motong uang itu dengan menggunakan pisau pemotong daging yang digenggam. Kemudian 10 % hasil potongan, dikirim ke lantai tengah dan dasar apartemen ini. Tapi sudahlah, lebih baik kita keluar saja dari ruangan ini.
            Lihat sekumpulan orang di jendela sebelah kanan anda? Yah, itu adalah sekumpulan orang yang diperintahkan untuk membuang jebakan ke jalan setapak menuju lantai dasar. Mungkin anda akan bertanya, untuk apa yah? Tapi tenang saja, nanti anda akan tahu jawabannya.
            Lebih baik kita masuk ke ruangan yang ada di depan anda. Ruangan ini adalah tempat si anak pimpinan apartemen. Sudah masuk?, lihat orang yang duduk dan dikelilingi wanita itu?. Yah dialah si anak pimpinan apartemen. Dia itu hidupnya sangat enak, setiap hari dikelilingi oleh wanita. Dan bagi siapa saja yang tidak dia senangi, maka akan dilemparkan melalui jendela yang ada di depan anda. Tidak hanya itu, dia juga senang memalaki bawahannya serta orang-orang yang ada di lantai tengah dan dasar demi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
            Sepertinya kita tidak usah berlama-lama. Lebih baik kita keluar dari ruangan ini dan menuju tangga yang ada di pojok lantai atas ini. Sebenarnya masih ada beberapa ruangan yang belum kita kunjungi. Tapi sudahlah, itu hanya ruangan sekretaris di apartemen ini, yang mempunyai banyak ide, jujur, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab seluruh isi apartemen ini dimonopoli oleh si pimpinan apartemen beserta anaknya. Serta beberapa ruangan para pesuruh yang tidak senang memotong-motong uang.
Ayo kita segera menuju tangga di pojok lantai ini. Dan tangga tersebut adalah jalan menuju……………
Lantai Tengah Jeneponto  
            Dilantai ini pemandangannya sedikit berbeda dengan lantai atas, oleh karena itu lebih baik kita berjalan-jalan melihat pemandangan di lantai ini.
            Lihat sekumpulan orang yang berdiri dengan wajah memelas di pojok sebelah kanan anda? Mereka adalah sekumpulan pegawai rendahan yang sedang meratapi nasib akibat ulah si pimpinan apartemen beserta anaknya. Beberapa waktu yang lalu, para pegawai tersebut diwajibkan memberi upeti pada pimpinan beserta anaknya. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga dimutasi ke lantai bawah akibat tidak menuruti perintah sang pimpinan beserta anaknya.
            Sudahlah, kita terus saja berjalan dan masuk ke ruangan yang ada di depan kita. Ruangan ini adalah tempat segerombolan orang yang mati-matian berfikir bagaimana caranya mengambil uang hasil potongan dari lantai atas. Itulah sekelompok orang yang menamai dirinya “aktivis”, dan katanya berjuang untuk rakyat. Namun faktanya, kerjaan mereka hanya mendata orang-orang di lantai dasar atau seluruh isi apartemen ini, kemudian menjual datanya ke pimpinan apartemen yang biasanya digunakan untuk mencari lebih banyak bantuan dari apartemen pusat. Dan tentunya, bantuan itu akan dipotong lagi di lantai atas. Serta untuk beberapa kepentingan lainnya.
            Tidak hanya dijual ke pimpinan, tapi kadang juga dijual ke beberapa lembaga yang membutuhkan datanya. Pastinya dengan satu tujuan, uang.
            Oke, kita keluar dari ruangan ini. Karena aku yakin anda akan muak dengan orang-orang itu.
            Selanjutnya, kita masuk ke ruangan yang ada di dekat sekumpulan pegawai tadi. Nah, anda pasti heran kan? Sebab di ruangan ini semuanya berwajah “$” dan memegang pisau pemotong daging, mirip dengan pemandangan di lantai atas. Yah, orang-orang ini adalah pegawai yang dipercayakan oleh pimpinan untuk mengirim uang hasil potongan di lantai atas menuju lantai dasar. Tapi sayangnya, uang tersebut kembali di potong-potong oleh mereka.
            Bagaimana, sudah puas melihat pemandangan di lantai ini? Jika sudah puas, lebih baik kita menuju tangga yang ada di dekat ruangan “aktivis” tadi. Karena tangga itu adalah jalan menuju………..
Lantai Dasar Jeneponto
            Aku minta anda untuk sedikit berhati-hati, sebab di pertengahan tangga ada “anjing bulldog” milik pimpinan apartemen  yang ditugaskan menjaga tangga ini agar penghuni lantai dasar enggan untuk naik ke lantai tengah dan atas. Tapi biasanya, jam segini anjingnya sedang tidur. Jadi kita bisa lewat.
            Mungkin anda akan bertanya lagi, mengapa harus dijaga? setelah tiba anda akan tahu jawabannya.
            Nah, akhirnya kita tiba di lantai dasar apartemen ini. Masih kuat untuk berjalan? Jika tidak, anda tidak usah khawatir. Sebab di lantai ini tidak banyak yang bisa dikunjungi.
            Mari berjalan dan silahkan layangkan pandangan melihat pemandangan sekitar. Di lantai ini tidak ada sekat-sekat ruangan, sebab semuanya sama rata sama rasa. Sama-sama sedang berada dalam lingkaran kesengsaraan.
            Apa anda melihat sekumpulan orang yang ada di pojok sebelah kiri? Mereka adalah sekelompok petani tadah hujan yang sudah bertahun-tahun tidak menikmati hasil dari tanah garapannya sebab susahnya air untuk mengairi lahan. Sedangkan yang disebelahnya adalah sekelompok petani buah dan sayuran yang bingung akan dibawa ke mana hasil panennya. Parahnya, pada tahun 2005 salah satu dari mereka pernah membuang satu truk bawang akibat tidak ada yang mau membeli.
            Kemudian yang berada dipojok sebelah kanan adalah sekelompok petani rumput laut yang sedang kebingungan akibat rumput lautnya terkena penyakit dan mereka tidak tahu apa penyebabnya. Sehingga kadang mengalami gagal panen. Tidak hanya itu, mereka juga sedang kekurangan peralatan untuk menghasilkan rumput laut yang berkualitas. Serta tidak jelasnya dimana mereka harus memasarkan rumput lautnya.
            Lihat orang-orang yang sejak dari tadi berlalu lalang itu? Mereka adalah sekelompok pengangguran yang bingung harus berbuat apa untuk menghidupi dirinya. Biasanya mereka merantau ke negeri seberang untuk mencari kerja, seperti menjadi kulih bangunan, tukang becak, serta kerja-kerja kasar lainnya. Walaupun sebenarnya hasil dari rantauannya tidaklah seberapa.
            Kadang juga beberapa petani dan pedagang yang tidak mampu lagi menjalankan usahanya akibat kekurangan biaya, terpaksa merantau demi mencari pekerjaan.
            Yang unik adalah, sang pimpinan apartemen terus membohongi para petani yang kekurangan air untuk mengairi lahannya bahwa Jeneponto memang kering, kekeringan adalah takdir.
            Tapi tengoklah keluar melalui jendela disebelah anda. Apakah anda melihatnya? 100 meter dari apartemen ini ada sebuah sungai yang besar dengan air yang melimpah. Jika menggunakan teknologi, sebenarnya air itu bisa dikirim ke lantai dasar apartemen ini untuk mengairi lahan-lahan kering. Tapi sudahlah, itu tidak akan mungkin terjadi. Sebab sang pimpinan lebih suka memotong-motong uang di ruangannya.
            Lihat, ada orang dari lantai tengah menuju ke sini. Tau tidak dia siapa? Dia adalah sang tengkulak yang akan membeli hasil panen para petani dengan harga yang murah kemudian dia jual ke pasaran dengan harga yang berlipat.
            Ada apa? anda bertanya mengapa mereka tidak bertemu langsung dengan pimpinan apartemennya? Aku kan sudah bilang bahwa di tangga menuju ke atas ada ”anjing bulldog” yang siap menerkam siapa saja yang berani menemui sang pimpinan.
            Kenapa lagi? Anda bertanya mengapa mereka tidak keluar dari apartemen ini untuk mencari jalan keluar dari permasalahan mereka? Coba saja keluar, maka mereka akan menginjak perangkap yang dilemparkan dari lantai atas. Perangkap itu berguna untuk menghalangi siapa saja yang ingin keluar, sebab sang pimpinan takut apa yang dia perbuat pada orang di lantai ini dan beberapa pegawai di lantai tengah tersebar luas ke pelosok negeri.
            Aduuuhhhh…ada apalagi? Anda bertanya bagaimana dengan sang pimpinan sendiri dengan sekutu-sekutunya jika ingin keluar? Kan mereka punya pesawat yang bisa digunakan kapan saja. Apalagi yang namanya bantuan, lebih baik tidak usah ditanyakan. Sebab anda telah menyaksikan bagaimana dana bantuan tersebut mengalami dua kali pemotongan.
            Jadi orang-orang yang ingin merantau harus melewati jalan setapak dengan sangat hati-hati, walaupun itu sungguh melelahkan. Tapi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain.
            Untungnya di lantai dasar ini ada beberapa orang baik dan punya kemampuan finansial yang lebih. Mereka kadang memberi bantuan kepada para petani dan pedagang agar usahanya bisa terus berlanjut.
            Aku ingin bertanya, apakah ditempat anda tinggal, juga terjadi hal yang demikian?

Jeneponto, 1 juni 2013
AMAN WIJAYA

Beberapa waktu yang lalu, pihak Unhas mengeluarkan aturan berupa larangan beroperasi bagi angkutan umum (pete-pete) dengan alasan untuk mengurangi polusi dan mengatasi kemacetan dibeberapa titik. Hal tersebut diungkapkan oleh Halim Handoko selaku Biro Administrasi Umum Unhas. “pihak Unhas hanya berupaya mengurangi polusi dan kemacetan di area kampus”, ucap Halim saat ditemui di ruangannya.
                Namun disisi lain, berdasarkan hasil survei tim CAKA di lapangan pada salah satu titik kemacetan yaitu jalan pintu dua Unhas, yang memenuhi sisi-sisi jalan bukanlah angkutan umum, melainkan kendaraan pribadi. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar bahwa angkutan umum memberikan sumbangsih yang sangat besar atas kemacetan di Unhas?
Dampak dari pembangunan Rumah Sakit
                Saat ini, para pimpinan Unhas sedang sibuk menata kampus merah untuk menuju World Class University. Salah satu yang menjadi simbol dari impian tersebut adalah Rumah Sakit pendidikan yang dibangun di daerah pintu dua. Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu setahun dua bangunan rumah sakit berhasil dibangun. Menurut Halim Handoko, kedua Rumah Sakit tersebut merupakan proyek yang didanai oleh pusat. “ini merupakan bantuan dari pusat, khusus untuk membangun Rumah Sakit pendidikan, bukan karena rektor Unhas yang merupakan orang kedokteran”, ucapnya.
                Jalur pintu dua merupakan jalan yang selama ini digunakan untuk berbagai kepentingan. Mulai dari angkutan umum, masyarakat yang ingin mencari nafkah sebagai pedagang di dalam kampus, pedagang kaki lima, mahasiswa dan para pengunjung Rumah Sakit, baik Rumah Sakit Wahidin maupun Unhas. Sebelum Rumah Sakit Unhas berdiri, terlebih dahulu telah berdiri Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, dan dulunya sisi jalan dipenuhi oleh pete-pete yang parkir menunggu penumpang yang akan menggunakan jasa angkutan umum dan pedagang kaki lima yang menjajalkan jualannya.
                Berdasarkan pengamatan tim CAKA di lapangan, setelah Rumah Sakit pendidikan unhas didirikan, jalanan tampak semakin padat akibat bertambahnya kendaraan pribadi yang parkir di sisi jalan, mulai dari pagi hingga sore hari. Belum lagi dengan angkutan umum yang harus parkir untuk menunggu penumpang, yang kadang harus berhenti di tengah jalan akibat sisi jalan telah dipadati oleh kendaraan pribadi walaupun jalan telah diperlebar. Yang menjadi pertanyaan, apakah yang menyebabkan semakin bertumpuknya kendaraan? sehingga menyebabkan sirkulasi di jalur pintu dua tampak semakin sembrawut.
                “Sim Salabim”, mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan kedua bangunan milik Unhas tersebut.  Kedua Rumah Sakit yang dibangun  melalui bantuan dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan itu tampak dipaksakan di atas lahan yang sempit, sehingga sirkulasi di kawasan tersebut semakin sembrawut, bukannya tertata semakin baik. Dengan kata lain, kedua bangunan tersebut tidak terencana dengan baik, dan sangat dipaksakan keberadaannya. Hal ini semakin dipertegas dengan tidak adanya master plan untuk rencana pembangunan infrastruktur saat tim CAKA coba mempertanyakan pada Biro Perencanaan Unhas.  Dimana idealnya, penataan sebuah ruang harus didahului dengan master plan pembangunan untuk mengatur dimana sebaiknya sebuah bangunan sebesar Rumah Sakit harus ditempatkan.
                Rumah sakit pertama yang berada di sudut jalan jelas sangat merusak sirkulasi. Menurut hasil seurvei tim CAKA, tidak tersedianya lahan parkir untuk dokter dan para pengunjung rumah sakit membuat mereka harus parkir di pinggir jalan. Semestinya, untuk bangunan seperti rumah sakit harus mempertimbangkan banyaknya pengunjung yang akan datang dan pasti menggunakan kendaraan, setidaknya memperkirakan banyaknya pasien dan penjenguknya. Belum lagi Rumah sakit tersebut adalah Center pengobatan, yang secara otomatis akan menarik perhatian masyarakat yang ingin menggunakan jasa pengobatan. Sehingga masyarakat akan berbondong ke rumah sakit tersebut karena daya tariknya. Lalu bagaimana jika semua orang yang menggunakan kendaraan akan berbondong ke rumah sakit tersebut?. Maka macet akan semakin parah.
                Kedua, arsitektur rumah sakit tersebut sangat diskriminatif. Tidak adanya jalan khusus untuk penyandang tunanetra, tunadaksa, dan tunarungu. Sehingga sangat membahayakan jika orang yang cacat harus ke Rumah Sakit tersebut, melihat padatnya kendaraan yang berlalu lalang di daerah itu. Ditambah lagi bangunan itu berada di tepi jalan. Seakan pihak Unhas berfikir bahwa orang yang akan berkunjung ke Rumah sakit itu semuanya adalah orang yang sempurna secara fisik.
                Sama halnya dengan Rumah Sakit kedua, besarnya bangunan tidak seimbang dengan luasnya lahan parkir. Selain itu, bangunan tersebut menghilangkan separuh Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan daerah resapan air. Pada musim hujan, biasanya jalan di pintu dua akan tergenang, dan jika daerah tersebut telah dibeton, maka tidak ada lagi tanah yang akan menyerap air karena telah dibeton.
                Halim Hamdoko mengatakan bahwa semestinya para prtinggi Unhas mempertimbangkan baik-baik untuk terus membangun, karena Unhas adalah salah satu hutan terbuka di Makassar. “semestinya mahasiswa menegur para pimpinan agar tidak terus membangun infrastruktur di area kampus, karena akan mengancam salah satu hutan terbuka di Makassar”. Ucapnya.
                Menurut Muhammad Cora, seorang arsitek lulusan Unhas. Semestinya sebelum membangun, pihak Unhas melakukan sosialisasi ruang. “sosialisasi ruang dalam hal ini adalah konteks aktivitas, sejarah ruang, hak dan kewajiban mengakses ruang. Semestinya unhas mempertimbangkan aktivitas apa saja yang yang terjadi di daerah ini, siapa saja yang menggunakan dan sampai dimana hak dan kewajiban Unhas menggunakan ruang”, ucapnya.
                Cora menambahkan, “seharusnya pihak Unhas mempertimbangkan bahwa jalur pintu dua tidak hanya digunakan oleh dokter tetapi ada pedagang kaki lima, angkutan umum, serta orang-orang yang mempunyai hak untuk mengakses jalan tersebut. Karena semestinya unhas sebagai institusi yang mempunyai kewajiban mengabdi pada masyarakat harus mempertimbangkan hal-hal tersebut. Selain itu penataan ruang harus bersifat partisipatif, agar dalam penataan tidak ada pihak yang dirugikan”, tutur Cora.
Aldi, salah satu supir pete-pete 07 mengatakan bahwa sebenarnya bukan pete-pete yang menyebabkan kemacetan. “dari pagi hingga sore saya berlalu lalang di daerah ini, dan saya sangat jelas melihat bahwa kendaraan pribadi sering parkir seenaknya sehingga kamipun kadang pusing ingin berhenti dimana untuk menaikkan penumpang. Kami juga punya aturan, jika sisi jalan penuh maka kami tidak berhenti, namun jika telah ada penumpang yang memanggil terpaksa kami berhenti sejenak ditengah jalan. Mau bagaimana lagi, penumpang juga membutuhkan kami. Tapi mengapa kami yang dianggap sebagai biang kemacetan”, tutur aldi.
Sama halnya dengan yang dikatakan oleh dokter Abdillah, salah satu pegawai di Rumah Sakit Unhas. Menurutnya fasilitas di Rumah Sakit ini tidak memadai termasuk untuk lahan parkirnya. “fasilitas di rumah sakit ini sangat tidak memadai, termasuk untuk lahan parkir. Jadi mau tidak mau kita harus parkir di sisi jalan”, tuturnya.
Kedua Rumah Sakit yang dibangun secara mendadak dan tanpa kajian yang mendalam itu jelas sangat memperparah keadaan, sehingga lagi-lagi harus mengorbankan pete-pete. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kedua bangunan tersebut dipaksakan berdiri di daerah tersebut?. Mungkin para petinggi Unhas ingin memperlihatkan pada publik bahwa inilah rumah sakit kami yang megah.
Go Green?  
                Konsep go green Unhas sebenarnya masih menuai tanda tanya besar. Jika angkutan umum dilarang beroperasi demi mengurangi polusi, mengapa kendaraan pribadi juga tidak dibuatkan aturan yang sama. Halim Handoko saat dimintai pendapatnya mengenai hal tersebut malah melontarkan jawaban yang tidak sepantasnya pada tim CAKA. “kalian ini bertanya pakai otak atau tidak? Kalian saja yang memprovokasi mahasiswa untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor”, ucapnya.
                Pembangunan kedua rumah sakit Unhas adalah salah satu yang mematahkan konsep tersebut. Dengan adanya kedua bangunan itu, kendaraan bermotor yang sangat jelas menyebabkan polusi semakin bertumpuk. Beberapa waktu yang lalu, Jokowi selaku gubernur DKI Jakarta ingin meremajakan angkutan umum untuk mengurangi polusi dan kemacetan. Namun pihak Unhas malah menghilangkan angkutan umum dan membiarkan kendaraan pribadi semakin bertumpuk karena ingin menanggulangi kemacetan dan polusi.
                Ditambah lagi dengan ulah para dokter yang katanya adalah profesi yang go green namun tidak mempunyai etika. Jika memang para dokter adalah profesi yang menerapkan go green dan paling steril, maka mereka tidak akan menambah tumpukan kendaraan di jalan pintu dua dan menambah polusi. Belum lagi ketika mereka harus memarkir mobilnya di sisi jalan.   
               
                  
               
                
Disuatu malam yang hangat di area workshop Unhas,ditengah kesibukan para pedagang kaki lima  melayani para pengunjung yang mencari makan, orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari, serta para mahasiswa yang memilih tempat tersebut untuk bersantai sambil bersenda gurau, terselip dua orang ibu rumah tangga yang sedang berdebat mengenai calon gubernur Sul-Sel 2013-2018.

Ibu A : pada pemilihan nanti, saya menjagokan pak Ilham.
Ibu B : waduh, kalau saya belum jelas.
Ibu A : mengapa bu?
Ibu B : soalnya menurut saya tidak ada calon yang bagus.
Ibu A : wah, jangan begitu bu, Ilham itu bagus loh.
Ibu B : mana buktinya?
Ibu A :tuh, makassar sudah menjadi kota modern.
Ibu B : modern apanya, disekolah anak saya saja harus bayar uang pembangunan yang    mahal. katanya pendidikan gratis, mana buktinya?

Ibu A : tapi kan terbukti bahwa disekolah anak ibu itu benar-benar sedang berlangsung pembangunan.
Ibu B : iya sih, tapi kok uang pembangunan harus dibebankan pada murid. mestinya kan itu urusan pemerintah.
Ibu A : Ah, tapi kalau saya mau tidak mau tetap menjagokan Ilham, dia kan pemimpin yang sering terjun ke lapangan.
Ibu B : tapi cuma sekedar terjun, tidak ada perubahan.
Ibu A : daripada Pak Syahrul?
Ibu B : siapa juga yang menjagokan syahrul, pokoknya saya tidak menjagokan siapa-siapa, mending saya golput, pemimpin jaman sekarang tidak ada yang becus. kita saja mau di gusur.
Ibu A : kalau tidak mau memilih, berarti tidak mau negara kita berubah.
Ibu B : bagaimana mau memilih?semua calon tidak yang saya kenal, apa mereka baik atau tidak. selama ini, keduanya memegang posisi pemimpin, tapi tidak ada yang berubah. makasar begitu2 saja, terlebih sulawesi selatan.
Ibu A : ya terserah ibu sajalah, mau memilih atau tidak.
Ibu B : saya tetap tidak akan memilih. siapapun nantinya yang naik, yakinlah kita sebagai rakyat miskin tidak pernah difikirkan. kalaupun mereka naik, kita juga tidak diberi uang.

hahahahahahahhaahahhaaa.....
apa yang bisa kita petik dari perbincangan kedua ibu rumah tangga tersebut?



Pernah menginjaknya?
Pernah melihatnya?
Atau pernah mendengarnya?
Sebuah tempat yang katanya indah, damai nan tentram
Namun bukan itu yang ku alami

Papua, itulah nama yang diberikan kepada ku
Entah nama itu adalah karunia atau petaka

Aku mempunyai banyak cita-cita
Aku ingin agar manusia menyayangiku
Aku ingin agar manusia hidup damai dan tentram
terkhusus bagi mereka yang menginjakkan kakinya ditubuhku

Namun ternyata, cita-cita itu harus ku buang jauh-jauh.....
mengapa?
Itulah pertanyaan yang di lontarkan padaku
Dari mereka yang tak memahami kondisiku saat ini.

Inilah sedikit kisah yang ku alami....

Manusia yang ku harap menyayangiku,merawat ku.
Malah terus mengebor isi perutku demi harta dan tahta
Hari demi hari aku harus menangis karena kesakitan
Aku terus berdoa pada-Nya, agar rintihan ini terdengar ke seluruh pelosok dunia
hingga tiba saatnya ada yang berbaik hati mau menyelamatkan ku
 
Hingga tiba suatu hari
Aku berfikir bahwa doa ku telah terkabulkan
Suara puluhan manusia yang terus meneriakkan namaku, begitu menyentuh hatiku.
Aku mendengar suara mereka yang lantang, ingin menyelamatkan ku dari kematian.

namun.....
Dor..dor..
Mereka di tembaki oleh sekelompok orang berpakaian hijau
mengapa?
Ternyata para pembelaku dianggap penghalang untuk terus mengeruk isi perutku

Akupun kembali merintih..
meratapi nasibku
diciptakan dengan kekayaan yang melimpah
namun hanya menjadi petaka
dan hanya dinikmati oleh si tamak itu

bukan hanya itu
konflik pun terjadi dimana-mana
semua karena memperebutkan ku
akupun hanya bisa terus berdoa pada-Nya
sambil menahan rasa sakit ini.

“Demi ambisi menuju kota bersih dan world class university, pedagang kaki lima kembali menjadi korban”
        Saat ini, para pedagang kaki lima yang bertempat di daerah workshop unhas terancam akan kehilangan lahan mencari nafkah.  Hal ini disebabkan karena tanah yang mereka gunakan sebagai lahan berdagang adalah tanah milik Unhas. Sedangkan Unhas yang menjadi salah satu legitimasi Pemerintah Kota Makassar untuk mewujudkan visi menuju kota bersih, dan sesuai visi untuk menuju world class university, berniat menggusur para pedagang kaki lima yang di anggap kumuh dan mengganggu pemandangan. Hal ini dipertegas dengan diterbitkannya surat edaran Unhas yang memberikan ultimatum kepada para pedagang untuk segera membongkar tenda jualannya dalam waktu yang ditentukan.
      Namun karena para pedagang tidak merespon himbauan tersebut, maka unhas kembali mengeluarkan surat edaran yang kedua, yaitu undangan panggilan rapat untuk para pedagang. Menurut Bapak Hamka salah satu pedagang kaki lima, pertemuan tersebut bertujuan untuk menetapkan aturan akan adanya pajak jika para pedagang bersikeras untuk tetap menempati tanah tersebut. Selain itu para pedagang hanya boleh berjualan dimalam hari, dan tenda mereka tidak boleh didirikan pada siang hari, atau system bongkar pasang.  “system bongkar pasang tenda akan menyulitkan kami untuk berjualan, karena terlalu banyak barang yang harus kami angkat tiap harinya, apalagi untuk pedagang wanita yang tidak mempunyai suami”. Tutur pak hamka.
       Sedangkan untuk pajak yang akan diterapkan, harga untuk setiap pedagang berbeda-beda. Seperti Pak Hamka (pedagang nasi goreng) yang dikenakan 4 juta, mas gondrong (pedagang nasi goreng) 5 juta, Tia (pedagang gorengan) 8 juta, warung dian 15 juta, dan masih banyak lagi. Namun para pedagang masih tetap berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak Unhas guna mengurangi pajak yang akan diterapkan. Karena mereka merasa bahwa jumlah tersebut sangat memberatkan.
      Jika menyimak kronologis di atas, apa yang terjadi jika semua aturan tersebut akan diberlakukan untuk para pedagang kaki lima? Tentunya hal itu akan membawa beban yang berat untuk level pedagang kaki lima seperti mereka. Karena selain waktu untuk berdagang yang dibatasi, merekapun harus membayar pajak yang besar tiap tahunnya. Otomatis pendapatan mereka akan berkurang jika waktu untuk berdagang dibatasi, belum lagi pemasukan mereka harus disisihkan untuk urusan pajak. Maka sangat jelas akan menambah beban hidup.
     Tapi mengapa niat untuk menggusur berubah menjadi pemerasan terhadap para pedagang kaki lima? Mungkin pihak unhas ingin mengambil keuntungan lebih dari mereka. Mengingat kasus yang pernah dialami oleh para pedagang kaki lima di pintu dua unhas, dimana mereka terpaksa harus angkat kaki karena larangan berdagang dari pihak Unhas. Namun sebelum angkat kaki, mereka sempat dikenakan aturan untuk membayar pajak. Tapi ujung-ujungnya mereka tetap digusur. Sepertinya hal itulah yang akan menimpa para pedagang kaki lima workshop. Dimana pemerasan yang dilakukan oleh pihak  Unhas hanyalah dalih untuk mengusir mereka secara perlahan. Namun sebelum angkat kaki, terlebih dahulu pihak Unhas ingin menikmati uang setoran pajak para pedagang. Setelah menikmati, barulah mereka digusur. Karena visi menuju kota bersih dan world clas University akan terus berlanjut walau apa pun yang terjadi, meski harus mengorbankan masyarakat miskin. Sungguh tidak berperikemanusiaaan.
     Unhas yang merupakan salah satu PTN terbesar di Indonesia yang mempunyai visi pengabdian pada masyarakat hanyalah bualan belaka. Karena ambisi busuk para birokrasi tidak pernah memihak pada masyarakat kelas bawah. 

(hasil reportase di salah satu wilayah yang di huni oleh pedagang kaki lima)